SINDOSULSEL.COM, Ragam – Langit dunia kembali menggelap. Dalam beberapa hari terakhir, berita-berita mengenai konflik di berbagai belahan dunia terus bermunculan, mengingatkan kita betapa rapuhnya perdamaian yang selama ini kita impikan.
Duka dan kesedihan kembali menyelimuti Gaza, ketegangan meningkat antara India-Pakistan, dan eskalasi baru terjadi di Yaman.
Gaza: Derita yang Tak Kunjung Usai
Pada Rabu (7/5/2025), Gaza kembali diguncang kekerasan setelah serangan udara menghantam sebuah sekolah di kamp pengungsian Bureij yang menjadi tempat perlindungan warga sipil. Setidaknya 31 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka dalam insiden ini.
Ahmad Radwan, juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, menegaskan bahwa sekolah tersebut digunakan oleh para pengungsi yang telah terusir dari rumah mereka selama berbulan-bulan akibat konflik berkelanjutan.
Di sisi lain, pihak Israel mengklaim bangunan tersebut merupakan pusat komando kelompok perlawanan.
Serangan ini terjadi sehari setelah pembicaraan damai dibatalkan.
Dalam situasi tersebut, kita dihadapkan pada pertanyaan yang menggugah: Sampai kapan darah akan terus mengalir? Sampai kapan anak-anak tak berdosa harus menanggung beban perang yang bukan pilihan mereka?
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 52.000 korban jiwa sejak konflik dimulai, dengan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi.
Sebuah tragedi kemanusiaan yang terus berlanjut tanpa kepastian kapan akan berakhir.
Sebagai sesama manusia yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, situasi di Gaza mengingatkan kita pada lirik lagu “Love Will Prevail” yang penuh makna:
“Hidup menjadi begitu murah, begitu banyak anak yatim menangis. Mereka lupa bagaimana caranya tersenyum. Oh, aku tak bisa memahami bagaimana seseorang bisa membunuh seorang anak tak berdosa.”
India-Pakistan: Api di Perbatasan
Secara bersamaan, konflik India-Pakistan kembali memanas setelah New Delhi melancarkan serangan udara ke sembilan titik di wilayah Pakistan dan Kashmir pada Rabu (7/5/2025).
India mengklaim operasi yang diberi nama “Operasi Sindoor” ini sebagai respons terhadap serangan teroris di Pahalgam dua pekan sebelumnya.
Namun, pemerintah Pakistan membantah klaim tersebut dan melaporkan bahwa serangan mengakibatkan tiga warga sipil tewas dan belasan lainnya luka-luka.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan bahwa korban termasuk wanita dan anak-anak, dan menyebut serangan tersebut mengenai wilayah sipil.
Ketegangan di kawasan ini terus meningkat, dengan kedua negara saling menembak di sepanjang Garis Kontrol (LoC) sejak akhir April.
Perjanjian-perjanjian bilateral pun terancam dibekukan, sementara banjir bandang dan kekeringan menambah penderitaan warga di kedua sisi perbatasan.
Yaman: Medan Baru Konflik Regional
Timur Tengah juga semakin memanas setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah kota di Yaman pada awal Mei 2025.
Serangan tersebut menargetkan Bandara Internasional Sanaa dan fasilitas penting di Hudaydah, sebagai pembalasan atas serangan rudal balistik oleh kelompok Houthi terhadap Bandara Ben Gurion.
Serangan pada Senin dilaporkan menyebabkan sedikitnya 21 orang terluka, sedangkan serangan sebelumnya ke Al Hodeidah menewaskan empat warga sipil dan melukai puluhan lainnya.
Konflik ini menambah kompleksitas krisis di kawasan, dengan Yaman menjadi medan baru dalam benturan kepentingan regional.
Merenungkan Makna Perdamaian
Di tengah gelombang konflik yang terus berkecamuk, kita diingatkan pada pesan mendalam dari lagu “Hana wa Dare no Mono?” (Siapa Pemilik Bunga Itu?):
“Jika batasan menghilang dari dunia ini, maka tak perlu ada peperangan lagi… Kenapa dan untuk apa kita menggambar garis? Ya, kita semua berada di atas bumi yang sama.”
Pertanyaan ini mengajak kita untuk merenung: Mengapa manusia terus membangun tembok pemisah, menarik garis batas, dan menciptakan perbedaan yang pada akhirnya berujung pada konflik dan kehancuran?
Dalam lagu “No War in the Future”, kita diingatkan akan harapan yang tak boleh padam:
“Meski di ujung horison, kegelapan semakin mendekat. Tak ada hal yang dapat membuat kita takut. Bagaimanapun gelapnya malam, mentari pagi pasti akan terbit.”
Solidaritas untuk Kemanusiaan
Sebagai umat manusia, terlepas dari identitas agama, suku, atau bangsa, kita dipanggil untuk selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Kita tidak bisa menutup mata terhadap penderitaan di Gaza, di Kashmir, di Yaman, atau di belahan dunia manapun.
Solidaritas kita terhadap sesama yang menderita adalah wujud keimanan dan kemanusiaan yang hakiki.
Sebagaimana pesan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (Al-Hujurat: 10). Persaudaraan ini tidak terbatas pada identitas tertentu, melainkan merangkul seluruh kemanusiaan.
Dalam bukunya “The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy”, John Mearsheimer dan Stephen Walt mengungkapkan bagaimana kebijakan luar negeri di Timur Tengah sering kali dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara Norman Finkelstein dalam “Gaza: An Inquest into Its Martyrdom” menggambarkan dengan rinci bagaimana penduduk Gaza telah hidup dalam penderitaan berkepanjangan yang tidak mendapatkan perhatian seharusnya dari komunitas internasional.
Ilan PappĂ©, sejarawan Israel, dalam bukunya “The Ethnic Cleansing of Palestine” juga menyoroti sejarah panjang penyingkiran sistematis penduduk Palestina yang sering terabaikan dalam narasi global. Karya-karya ini mengingatkan kita akan pentingnya menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi mereka yang tertindas.
Harapan di Tengah Kegelapan
Meskipun situasi dunia saat ini tampak mencekam, kita harus tetap percaya bahwa cinta dan kebenaran akan menang pada akhirnya. Seperti yang dinyatakan dalam lagu “Love Will Prevail”:
“Cinta akan menang, demi Tuhan, itu pasti. Cinta akan menang, aku menolak untuk gagal.”
Sebagai masyarakat global, kita memiliki tanggung jawab untuk terus menyuarakan keadilan, membangun solidaritas, dan berkontribusi dalam meringankan penderitaan mereka yang menjadi korban konflik.
Kita mungkin tidak dapat mengakhiri perang secara langsung, namun kita dapat membangun kesadaran dan tekanan publik untuk menghasilkan perubahan.
Seperti pesan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d: 11).
Perubahan dimulai dari kesadaran diri, kemudian menyebar menjadi gerakan kolektif untuk kebaikan bersama.
Di tengah dunia yang terkoyak oleh konflik, mari kita berpegang pada harapan bahwa suatu hari nanti, perdamaian akan hadir di Palestina, di Kashmir, di Yaman, dan di seluruh penjuru dunia.
Karena pada akhirnya, sebagaimana diungkapkan dalam lagu “No War in the Future”:
“Bisakah kita saling menyayangi? Dengan orang di seluruh dunia. Aku menginginkan kebaikan. Mari kita saling mencintai.”
Inilah doa dan harapan kita bersama: Tak ada perang di masa depan.












