HeadlineLuwu

Kerusakan Hutan di Sulsel Ibarat Baju Robek Tak Bisa Dijahit Lagi

×

Kerusakan Hutan di Sulsel Ibarat Baju Robek Tak Bisa Dijahit Lagi

Sebarkan artikel ini
Kerusakan Hutan di Sulsel Ibarat Baju Robek Tak Bisa Dijahit Lagi
Penjabat (PJ) Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, mengunjungi korban banjir di Kabupaten Luwu.(Kominfo Sulsel)

SINDOSULSEL.COM, Luwu – Parahnya kerusakan hutan di Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Luwu diibaratkan sebuah baju yang sudah robek, tak bisa dijahit lagi.

Pernyataan ini disampaikan Penjabat (PJ) Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, di sela-sela kunjungan Menteri Sosial, Tri Rismaharini, di Kabupaten Luwu, Jumat, (10/5/2024).

Disampaikan Bahtiar, kerusakan hutan di Sulawesi Selatan sudah terjadi sejak lama, bahkan di masa orde baru hingga memasuki masa reformasi.

“Luwu harus waspada karena ada kerusakan hutan, dari tahun lalu saya sampaikan itu. Makanya kita harus tanami semua satu Sulsel ini. Saya sudah lempar wacana jadi bagaimana ada semacam tanggap darurat,” katanya.

“Hutan di Sulsel ini, saya ibaratkan baju yang sudah robek, tidak bisa lagi dijahit tapi harus ditambal, tambalnya pake apa, pake pohon,” sambungnya.

Bahtiar mengatakan sejak tahun 2023, ia sudah berbicara tentang parahnya kerusakan hutan di Sulawesi Selatan.

“Dari tahun lalu kita ngomong soal kerusakan hutan di Sulsel. 2/3 lahan Sulsel sudah rusak dan bukan cuma hutan, kerusakan terjadi juga di luar hutan, ini sebenarnya kebanyak di luar hutan jadi kebun,” sebutnya.

Baca juga : PJ Gubernur Sulsel : PR Kita Adalah Mengatasi Hulu Penyebab Banjir

“Ini kejadian puluhan tahun yang lalu, terutama diakhir orde baru dan diawal reformasi, tidak ada pengawasan, habis seluruh hutan di Indonesia. Dulu kalau kita naik motor dari Bone ke makassar, dingin itu, banyak pohon pinus, sekarang mana ada pohon besar,” sebutnya.

Bahtiar Baharuddin, mengharuskan tindak cepat dan masif dalam penanganan hutan dan lahan di Sulawesi selatan

“Kalau saya harus dilakukan penanam agresif, masif. Sekarang kalau kita tanam hanya 2.400 per tahun, perlu 187 tahun baru bisa, harus seluruhnya menanam, tanam di dekat rumah masing-masing,” terangnya.

Dikutip dari laman betahita.id dengan judul https://betahita.id/news/detail/10203/tambang-emas-latimojong-biang-banjir-sulawesi-selatan.html?v=1715066720 mengungkapkan ulasan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).

Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amien, mengungkap bencana di Sulsel terjadi karena penurunan tutupan hutan di Gunung Latimojong. Pembukaan lahan di sekitar gunung itu karena pertambangan emas.

“Kawasan pegunungan Latimojong, yang melintasi dua kabupaten, Luwu dan Enrekang, menjadi pusat tragedi tersebut,” kata dia.