SINDOSULSEL.COM, Palopo – Pemerintah Kota Palopo resmi memulai pembentukan Forum Ekonomi Kreatif (Ecraf) sebagai wadah kolaborasi antara pelaku industri kreatif, akademisi, dan komunitas usaha.
Namun, di tengah semangat pembentukan forum ini, muncul pula suara kritis agar Ecraf tidak berhenti sebatas seremoni dan pembentukan struktur semata.
Sejumlah pelaku usaha kreatif menilai, banyak forum ekonomi kreatif di daerah lain gagal berlanjut setelah dibentuk.
Mereka berharap Ecraf Palopo tidak mengikuti jejak yang sama dan benar-benar menjadi ruang produktif bagi tumbuhnya ide serta usaha kreatif lokal.
Langkah Pemkot Palopo ini tetap diapresiasi sebagai upaya positif. Namun, para pelaku kreatif menekankan bahwa keberpihakan nyata pemerintah jauh lebih penting daripada sekadar forum.
Mereka menilai pelaku ekonomi kreatif membutuhkan ruang pamer, pelatihan berkelanjutan, pendampingan usaha, hingga dukungan pasar.
Tanpa itu, forum hanya akan menjadi nama tanpa makna sementara ide-ide anak muda Palopo kembali berjalan sendiri di jalan sunyi ekonomi lokal.
Kepala Bappeda Palopo, Asmuradi Budi, ST., M.Env.Man, memastikan forum ini akan difungsikan secara konkret agar memberi manfaat nyata bagi pelaku ekonomi kreatif yang selama ini bekerja tanpa wadah koordinasi.
“Kami ingin forum ini terbentuk secepatnya, paling lambat minggu depan. Ini momentum yang tepat karena sejalan dengan program unggulan Wali Kota Palopo,” ujar Armuradi dalam Focus Group Discussion (FGD) inisiasi pembentukan Ecraf Palopo, Senin (6/10/2025).
Ia menegaskan, Ecraf akan menjadi mitra pemerintah dalam merancang kebijakan ekonomi kreatif agar lebih tepat sasaran dan berpihak pada pelaku lapangan.
“Kami sedang menyusun RPJMD dan RKPD. Masukan dari forum ini akan kami sinkronkan agar program pemerintah benar-benar sesuai kebutuhan pelaku kreatif,” jelasnya.
Asmuradi menambahkan, pembentukan forum ini merupakan bagian dari visi besar Wali Kota Palopo, Hj. Naili Trisal, yang menjadikan sektor kreatif dan UMKM sebagai prioritas utama pembangunan ekonomi daerah.
“Dalam visi-misi beliau, Palopo diarahkan menjadi kota jasa global. Salah satu program unggulannya adalah UMKM Go Internasional. Pembentukan Ecraf ini bagian dari upaya mewujudkan visi tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah kalangan mengingatkan agar Ecraf tidak hanya berhenti di pembentukan struktur dan rapat rutin.
Tantangan terbesar justru bagaimana pemerintah membuka ruang nyata bagi pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang, khususnya dalam akses permodalan, promosi, dan pendampingan bisnis.
Akademisi muda sekaligus pelaku kreatif, Dr. Muhammad Anugerah Ardana, S.E., M.M., menilai Ecraf Palopo memiliki potensi besar jika dijalankan dengan komitmen kolaboratif.
“Dengan adanya forum ini, semua subsektor ekonomi kreatif bisa tersambung dalam satu wadah. Kami bisa berkomunikasi langsung dengan pemerintah dan stakeholder lain,” ujar Anugerah.
Namun, ia mengingatkan agar forum tidak berhenti pada wacana.
“Yang paling penting adalah tindak lanjut nyata yang bisa dirasakan pelaku UMKM dan industri lokal,” tegas dosen muda yang juga pemilik CK Kopi di Jalan Ahmad Razak tersebut.
Anugerah menilai masih banyak pelaku kreatif di Palopo yang membutuhkan bimbingan dan dukungan.
“Banyak pelaku kreatif butuh pelatihan, pendampingan, dan bantuan promosi produk. Pemerintah perlu hadir bukan hanya sebagai pengarah, tapi juga sebagai fasilitator dan pendamping,” katanya.
Kini publik menanti bukti, apakah Ecraf Palopo benar-benar menjadi ruang bagi kreativitas tumbuh dan berdaya saing, atau hanya menambah daftar forum seremonial yang berakhir tanpa aksi nyata.












