BONE, sindosulsel.com – Ribuan guru Pendidikan Anak Usia Dini, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama mengikuti workshop bimbingan mental bertema “Berkarakter, Beramal: Menata Hati, Menyatukan Langkah” di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Bone.
Kegiatan yang diselenggarakan Forum Gerakan Pancasila tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan guru dalam membentuk karakter peserta didik di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Andi Rasna, mengapresiasi pelaksanaan workshop tersebut.
Dalam keterangannya, Andi Rasna menilai materi pembinaan mental dan karakter sangat dibutuhkan oleh para pendidik.
“Mereka memang membutuhkan itu. Makanya, kami mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh mitra ini,” kata Andi Rasna.
Dewan Pakar Forum Kajian Pancasila, Aksi Hamzah, mengatakan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan telah mengubah paradigma pendidikan.
AI dinilai dapat membantu guru dan peserta didik dalam mengakses informasi, mengolah data, serta mendukung proses pembelajaran. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan peran manusia dalam membentuk kepribadian dan nilai moral peserta didik.
“Yang tidak bisa digantikan oleh AI adalah pembinaan karakter. Di situlah peran guru sesungguhnya yang harus terus diperkuat,” kata Aksi Hamzah saat menyampaikan materi.
Baca Juga : Ketua DPRD Sidrap Sebut Sekolah Rakyat Jadi Harapan Baru Anak Kurang Mampu
Menurutnya, pendidikan karakter di Kabupaten Bone perlu diperkuat melalui nilai-nilai budaya Bugis, terutama siri’ na pesse yang menjadi landasan harga diri, profesionalisme, kepedulian, dan empati.
Nilai tersebut kemudian diterjemahkan melalui prinsip 3S, yakni Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge’.
Sipakatau menekankan pentingnya memanusiakan sesama, Sipakalebbi mengajarkan sikap saling menghargai, sedangkan Sipakainge’ menjadi pengingat agar setiap orang saling menasihati dalam kebaikan.
Forum Kajian Pancasila tengah menyusun kajian akademik agar nilai-nilai budaya lokal dapat diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan di Kabupaten Bone.
Sejumlah program juga mulai dipersiapkan, termasuk penguatan budaya patabe’, maddampeng, serta penyusunan buku “Seratus Kepahlawanan Raja Bone” sebagai bahan pembelajaran karakter di sekolah.
Selain itu, konsep “Ranking Pangadereng” mulai digagas sebagai sistem penghargaan kepada peserta didik.
Baca Juga : Sebanyak 39 Mahasiswa Terima Beasiswa Cendekia BAZNAS Bone
Penilaian tersebut tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan karakter, kepedulian sosial, tata krama, dan akhlak peserta didik.
Ketua Forum Gerakan Pancasila, Andi Anshari, mengatakan workshop dilaksanakan karena nilai-nilai Pangadereng dinilai mulai mengalami pergeseran di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.
“Nilai Pangadereng kian tergerus. Karena itu, melalui kegiatan ini, nilai-nilai tersebut kami tanamkan kepada para guru,” ujar Andi Anshari.
Ia berharap para guru dapat meneruskan nilai yang diperoleh selama workshop kepada peserta didik melalui proses pembelajaran dan keteladanan sehari-hari.
Salah seorang peserta dari SD 191 Ponre Salampe, Kecamatan Ponre, Mahmud, menilai workshop tersebut memberikan pemahaman tambahan mengenai pentingnya peningkatan kapasitas guru dalam pembinaan karakter.
Menurutnya, tema “Menata Hati, Menyatukan Langkah” relevan dengan peran guru sebagai pendidik sekaligus teladan bagi peserta didik.
Workshop tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dilanjutkan dalam praktik pembelajaran, budaya sekolah, serta interaksi antara guru dan peserta didik.












