Sidrap

Listrik Masuk Sawah Jaga Produktivitas Petani Sidrap di Tengah Ancaman Kemarau

×

Listrik Masuk Sawah Jaga Produktivitas Petani Sidrap di Tengah Ancaman Kemarau

Sebarkan artikel ini
Listrik Masuk Sawah Jaga Produktivitas Petani Sidrap di Tengah Ancaman Kemarau

SIDRAP, sindosulsel.com – Ancaman kemarau dan fenomena El Nino tidak menyurutkan produktivitas petani di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Di tengah keterbatasan sumber air, hamparan sawah di wilayah tersebut tetap menghijau dan aktivitas pertanian terus berjalan.

Kondisi itu salah satunya ditopang program Listrik Masuk Sawah yang menjadi salah satu program unggulan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif.

Program tersebut menjadi solusi bagi petani, khususnya di kawasan persawahan tadah hujan yang selama ini sangat bergantung pada ketersediaan air.

Melalui jaringan listrik yang digunakan untuk mengoperasikan pompa pada sumur bor, petani kini dapat memperoleh pasokan air untuk mengairi sawah meski musim kemarau berlangsung.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mappasitujue, Mahmuddin, mengatakan program Listrik Masuk Sawah sangat membantu petani mempertahankan produktivitas lahan pertanian di Takkalasi.

“Kalau tidak ada bantuan listrik masuk sawah, mungkin sudah mati semua sawahnya orang di sini,” kata Mahmuddin.

Menurutnya, sejumlah sumur bor sebelumnya telah tersedia di kawasan tersebut.

Baca Juga : Rutan Sidrap Gelar Panen Raya Padi, Dorong Kemandirian Warga Binaan

Namun, pemanfaatannya belum maksimal karena terkendala ketersediaan jaringan listrik.

“Sebenarnya banyak sumur bor di sini, tapi tidak ada jaringan listriknya. Jadi untungnya ada inovasi ini, listrik masuk sawah,” ujarnya.

Program Listrik Masuk Sawah di Sidrap merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Sidrap, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kementerian Pertanian, serta PT PLN (Persero).

Di sepanjang areal persawahan Takkalasi kini terdapat sekitar 30 titik tiang listrik yang mendukung pengoperasian pompa air.

Air dari sumur bor kemudian dialirkan melalui jaringan pipa menuju lahan pertanian.

Setiap titik disebut mampu mendukung pengairan sekitar empat hingga lima hektare lahan sawah.

“Sudah mudah sekarang. Tinggal isi voucher listrik sesuai kebutuhan, air langsung keluar,” tambah Mahmuddin.

Keberadaan fasilitas tersebut juga berdampak terhadap produktivitas pertanian.

Baca  Bupati Sidrap Sambut Undangan Kebugis Papua Barat Daya

Baca Juga : Pemkab Sidrap Gelar Karnaval Alat Pertanian, Ratusan Unit Tampil Unik dan Kreatif

Hasil panen petani di Desa Takkalasi kini disebut mencapai sekitar 10,4 ton gabah per hektare, meningkat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran tujuh ton per hektare.

Desa Takkalasi memiliki sekitar 395,80 hektare lahan persawahan yang dikelola oleh 13 kelompok tani.

Sektor pertanian pun menjadi salah satu penggerak utama perekonomian masyarakat setempat.

Penerapan pola tanam IP300 atau tiga kali tanam dalam setahun semakin memperbesar potensi produksi pertanian di wilayah tersebut.

Dengan produktivitas sekitar 10,4 ton per hektare dan harga gabah berkisar Rp7.500 hingga Rp7.600 per kilogram, setiap hektare lahan berpotensi menghasilkan penerimaan kotor sekitar Rp78 juta hingga Rp79,04 juta dalam satu kali panen.

Apabila seluruh lahan seluas 395,80 hektare dapat ditanami dan dipanen tiga kali dalam setahun, nilai produksi gabah di Desa Takkalasi diperkirakan mencapai sekitar Rp93,85 miliar per tahun.

Kepala Desa Takkalasi, Sudarmin, pada Jumat (21/8/2026), mengatakan program Listrik Masuk Sawah memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi ancaman kekeringan.

“Bantuan listrik masuk sawah ini sangat bermanfaat dan semakin meningkatkan produktivitas hasil panen petani,” kata Sudarmin.

Program yang didorong Pemerintah Kabupaten Sidrap tersebut tidak hanya menghadirkan jaringan listrik hingga ke kawasan persawahan.

Listrik dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk menggerakkan pompa air, sehingga petani memiliki akses pengairan yang lebih terjamin dalam mengelola lahan mereka.

Ketersediaan air tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian, mendukung pola tanam hingga tiga kali setahun, sekaligus mempertahankan perputaran ekonomi masyarakat desa meski menghadapi musim kemarau.

Bagi petani Takkalasi, program Listrik Masuk Sawah tidak sekadar menjadi pembangunan infrastruktur, tetapi juga menjadi salah satu penopang agar sawah tetap produktif, panen terus berlangsung, dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak.