Sidrap

Kisah Jhon, Pemuda Sidrap yang Bertani dan Jadi Tukang Kayu demi Masa Depan

×

Kisah Jhon, Pemuda Sidrap yang Bertani dan Jadi Tukang Kayu demi Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Kisah Jhon, Pemuda Sidrap yang Bertani dan Jadi Tukang Kayu demi Masa Depan

SIDRAP, sindosulsel.com – Di Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Jhon memilih menjalani hidup dengan mengandalkan keterampilan dan tenaga yang dimilikinya.

Bertani menjadi pekerjaan utama, sementara menjadi tukang kayu dan buruh tani dijalaninya saat aktivitas di ladang berkurang.

Kisah pemuda pekerja keras tersebut diterima redaksi pada Jumat (11/09/2026).

Jhon tumbuh di lingkungan pedesaan yang sebagian masyarakatnya menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Sejak kecil, ia terbiasa melihat aktivitas warga mengolah lahan, menanam, merawat tanaman hingga menunggu masa panen.

Lingkungan itu pula yang kemudian membentuk pilihannya untuk bekerja di sektor pertanian.

Kini, Jhon menjalani kesehariannya sebagai petani.

Tanaman jagung menjadi salah satu komoditas yang ia kelola di lahan pertanian.

Pekerjaan tersebut membuatnya terbiasa turun langsung ke ladang, mulai dari mengolah lahan hingga merawat tanaman dengan harapan hasil panen dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi Jhon, menjadi petani bukan pekerjaan yang perlu dipandang rendah.

Baca Juga : Pemkab Sidrap Gelar PBK Batch IV, 64 Peserta Dipersiapkan Masuk Dunia Kerja

Ia memilih menjalani pekerjaan yang tersedia tanpa menjadikan gengsi sebagai pertimbangan utama.

“Menurut saya, tidak ada kata gengsi untuk urusan kerja. Selama pekerjaannya halal dan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, pasti saya jalani,” ujar Jhon.

Namun, aktivitas pertanian tidak selalu berlangsung setiap hari.

Ada masa ketika pekerjaan di ladang berkurang, terutama di antara musim tanam dan masa panen.

Pada waktu seperti itu, Jhon memanfaatkan keterampilan lain yang dimilikinya sebagai tukang kayu.

Berbagai pekerjaan pertukangan ia kerjakan untuk menambah penghasilan.

Jika ada petani lain yang membutuhkan tenaga, Jhon juga bersedia bekerja sebagai buruh tani.

“Kalau jagung sudah ditanam dan tinggal tunggu panen, waktu luang itu saya manfaatkan untuk jadi tukang kayu. Kadang juga ikut rombongan buruh tani kalau ada warga atau tetangga yang butuh bantuan tenaga,” tuturnya.

Baca  GTRA Sidrap Tinjau Lahan Eks HGU, Dorong Pengembangan Jagung dan Usaha Warga

Baginya, bekerja merupakan cara untuk tetap memenuhi kebutuhan sekaligus menjaga kemandirian.

Rutinitas Jhon menggambarkan kehidupan sebagian pemuda desa yang harus mampu beradaptasi dengan peluang pekerjaan yang tersedia.

Baca Juga : Pemuda Allakuang Raup Omzet Puluhan Juta dari Bisnis Batu Cobe dan Lesung

Ketika pekerjaan di sektor pertanian ada, ia turun ke ladang.

Saat kesempatan lain muncul, keterampilan pertukangan menjadi pilihan berikutnya.

Pilihan tersebut juga menunjukkan bahwa pekerjaan di desa tidak selalu terbatas pada satu bidang.

Kemampuan untuk menjalankan lebih dari satu jenis pekerjaan dapat menjadi cara untuk bertahan ketika penghasilan dari sektor utama belum menentu.

“Di desa ini kita harus pintar-pintar membagi waktu. Kalau hanya mengandalkan satu sumber saja agak berat, karena hasil panen kan tidak datang setiap hari. Intinya jangan malas bergerak,” tambah Jhon.

Di tengah perubahan pola kerja dan pilihan generasi muda, Jhon tetap memilih bertahan dengan pekerjaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Lainungan.

Ia tidak menjadikan profesi petani, buruh tani maupun tukang kayu sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.

Sebaliknya, pekerjaan-pekerjaan tersebut menjadi jalan yang dipilihnya untuk membangun kehidupan secara mandiri.

Di antara tanaman jagung dan pekerjaan pertukangan, Jhon masih menjalani proses untuk mencapai kehidupan yang ia inginkan.

Perjalanannya mungkin sederhana.

Namun, dari Desa Lainungan, Jhon menunjukkan bahwa masa depan juga dapat dibangun dari kemauan bekerja, keterampilan yang terus diasah, serta kesediaan memanfaatkan setiap peluang yang ada.