Internasional

AS Bergejolak, Warga Gelar Aksi “Hands Off!” di 50 Negara Bagian

×

AS Bergejolak, Warga Gelar Aksi “Hands Off!” di 50 Negara Bagian

Sebarkan artikel ini
AS Bergejolak, Warga Gelar Aksi “Hands Off!” di 50 Negara Bagian
Ribuan orang berbondong-bondong ke Monumen Washington saat protes dimulai (Anadolu Agency)

SINDOSULSEL.COM, Internasional – Sabtu (5/4/2025) menjadi hari protes terbesar di Amerika Serikat sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat awal tahun ini.

Lebih dari 1.200 orang turun ke jalan di berbagai negara bagian, menyuarakan penolakan terhadap serangkaian kebijakan kontroversial yang dikeluarkan melalui perintah eksekutif.

Aksi bertajuk “Hands Off!” ini berlangsung serentak di 50 negara bagian dan bahkan merambah ke luar negeri seperti Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, Meksiko, dan Portugal.

Salah satu titik utama terjadi di National Mall, Washington DC, yang dipadati ribuan massa dari berbagai latar belakang.

Di antara spanduk yang dibawa terlihat tulisan “Not My President!”, “Fascism has Arrived”, hingga “Hands Off Our Social Security”.

Para demonstran mengecam kebijakan pemangkasan anggaran, penghapusan kebijakan perlindungan sosial, hingga tekanan terhadap kebebasan sipil dan lembaga pendidikan.

Ezra Levin, pendiri kelompok aktivis Indivisible, menyebut demonstrasi ini sebagai peringatan keras terhadap Trump, Elon Musk, dan para pendukung garis keras MAGA.

“Kami menolak intervensi mereka dalam demokrasi, komunitas, dan sekolah kami,” ujarnya, seperti dikutip dari IDN Times.

Di kota Stamford, Connecticut, seorang nenek berusia 84 tahun, Sue-ann Friedman, kembali turun ke jalan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun.

“Saya pikir masa-masa protes saya sudah lewat, tapi Trump dan Musk memaksa saya untuk kembali,” katanya sambil mengangkat poster merah muda terang.

Sementara itu, Paul Kretschmann, pensiunan pengacara berusia 74 tahun, mengaku cemas atas arah pemerintahan.

“Saya khawatir ini bagian dari agenda untuk melemahkan pemerintah dan memperkuat kekuasaan pribadi,” ucapnya.

Di sisi lain, Gedung Putih melalui juru bicara Liz Huston membantah keras tuduhan bahwa pemerintahan akan memangkas Jaminan Sosial.

Ia menyatakan bahwa Trump justru berkomitmen melindungi program tersebut dari penyalahgunaan, terutama oleh imigran ilegal, yang menurutnya menjadi ancaman terhadap keberlanjutan anggaran sosial.

Namun, sebagian besar langkah pemerintahan Trump yang didorong oleh agenda konservatif Project 2025 telah memicu reaksi luas dari masyarakat sipil, aktivis hak asasi, dan kelompok pro-Palestina yang turut memanfaatkan momentum ini untuk memprotes hubungan AS-Israel dan pembatasan terhadap protes mahasiswa.

Aksi protes ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam terhadap arah demokrasi di AS dan meningkatnya pengaruh oligarki teknologi dalam pengambilan keputusan politik.