INTERNASIONAL, sindosulsel.com – Ketahanan pangan Eropa menghadapi tekanan serius setelah gelombang panas dan kekeringan ekstrem menghantam sejumlah kawasan pertanian sepanjang musim panas 2026.
Produksi tanaman pangan diperkirakan merosot, sementara harga makanan yang masih tinggi membuat sebagian masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Laporan terbaru Komisi Eropa memperkirakan produksi serealia Uni Eropa pada musim 2026/2027 hanya mencapai 262 juta ton.
Angka tersebut turun 9,6 persen dibandingkan musim sebelumnya dan berada 4,7 persen di bawah rata-rata lima tahun terakhir.
Jagung menjadi salah satu komoditas yang mengalami tekanan paling berat.
Produksinya diproyeksikan hanya 48,5 juta ton atau sekitar 20 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahunan.
Penurunan produksi tersebut membuat Uni Eropa diperkirakan meningkatkan impor jagung menjadi 25 juta ton pada musim 2026/2027, bertambah 5,7 juta ton dibandingkan musim sebelumnya.
Kondisi ini berkaitan erat dengan cuaca ekstrem yang melanda wilayah pertanian utama Eropa.
Prancis, Jerman, Italia, hingga sejumlah negara Eropa Tengah mengalami suhu tinggi berkepanjangan dan kekurangan curah hujan.
Pusat Penelitian Bersama Komisi Eropa atau Joint Research Centre (JRC), dalam laporan yang diterbitkan Senin (28/09/2026), menjelaskan bahwa panas ekstrem mempercepat perkembangan tanaman sehingga menghambat pembentukan biji dan umbi.
Dalam beberapa wilayah yang terdampak parah, tanaman bahkan mengalami kerusakan sebelum masa panen.
Sebagian lahan ditinggalkan karena hasil yang berpotensi diperoleh tidak sebanding dengan biaya pemanenan.
Penurunan produksi tidak hanya terjadi pada jagung.
Berdasarkan perkiraan JRC pada September, hasil panen kentang berada 7 persen dan bit gula 11 persen di bawah rata-rata lima tahun.
Kekeringan juga mengurangi ketersediaan rumput dan hijauan yang digunakan sebagai pakan ternak.
Baca Juga : Biaya Hidup Makin Berat, Gelombang Protes Guncang Sejumlah Negara Eropa
Dampak ekonomi dari cuaca ekstrem tersebut diperkirakan cukup besar.
Lembaga kajian Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) mencatat proyeksi produksi serealia di Uni Eropa dan Inggris mengalami pemangkasan sebesar 16,7 juta ton antara Juni dan September 2026.
Dengan menggunakan harga komoditas saat analisis dilakukan, ECIU memperkirakan nilai penurunan proyeksi produksi itu mencapai 3,2 miliar euro.
“Panas ekstrem dan kekeringan musim panas ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata analis pertanian ECIU, Tom Lancaster, dalam pernyataan berbahasa Inggris yang diterjemahkan dari keterangan resmi lembaga tersebut pada Jumat (02/10/2026).
Lancaster menilai perubahan iklim semakin mengancam kemampuan kawasan Eropa mempertahankan produksi pertaniannya, terutama ketika ketidakpastian geopolitik turut meningkatkan biaya usaha tani.
Persoalan produksi pertanian muncul ketika masyarakat Eropa masih menghadapi dampak kenaikan harga makanan selama beberapa tahun terakhir.
Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB), melalui analisis yang diterbitkan Selasa (20/10/2026), mencatat harga pangan di kawasan pengguna mata uang euro secara keseluruhan telah meningkat sekitar 30 persen dibandingkan akhir 2021.
Kenaikan tersebut tidak merata.
Di Finlandia, peningkatannya sekitar 24 persen, sedangkan di Estonia mencapai sekitar 48 persen.
Meskipun laju inflasi pangan tahunan di kawasan euro telah melambat menjadi 1,3 persen pada September 2026, tingkat harga makanan belum kembali ke kondisi sebelum lonjakan inflasi beberapa tahun lalu.
Baca Juga : Banjir Besar Landa Jepang Jelang Asian Games 2026
ECB memperingatkan bahwa tekanan terhadap harga pangan berpotensi meningkat kembali akibat kombinasi cuaca ekstrem dan mahalnya energi.
Kenaikan biaya energi dapat memengaruhi produksi pupuk, pengolahan makanan, transportasi, hingga distribusi produk pertanian.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat pada harga konsumen karena memerlukan waktu untuk menjalar melalui rantai pasok.
“Masih terlalu dini untuk beranggapan bahwa inflasi pangan sudah kehilangan dampaknya,” tulis para analis ECB dalam laporan tersebut, sebagaimana diterjemahkan dari pernyataan aslinya.
ECB memperkirakan inflasi pangan kawasan euro dapat meningkat hingga 3,4 persen pada kuartal ketiga 2027 sebelum kembali melambat.
Proyeksi ini masih bergantung pada perkembangan harga energi dan kondisi cuaca.
Tekanan harga pangan turut memperlihatkan persoalan keterjangkauan makanan di tengah masyarakat Eropa.
Berdasarkan data Eurostat yang diumumkan Rabu (07/10/2026), sebanyak 8,5 persen penduduk Uni Eropa pada 2025 tidak mampu membeli makanan yang mengandung daging, ayam, ikan, atau alternatif vegetarian yang setara setiap dua hari sekali.
Persentase tertinggi tercatat di Rumania sebesar 18,1 persen, sementara Siprus menjadi negara dengan persentase terendah, yakni 1,2 persen.
Data tersebut menunjukkan masih adanya kelompok masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi dalam memenuhi standar konsumsi makanan tertentu.
Namun, angka itu tidak berarti seluruh kelompok tersebut mengalami kelaparan.
Di sisi lain, persoalan pasokan pangan Eropa belum dapat disimpulkan sebagai krisis kelangkaan secara menyeluruh.
Komisi Eropa masih memperkirakan sejumlah sektor pertanian mampu bertahan.
Produksi beberapa komoditas seperti jelai, minyak nabati, serta produk susu diperkirakan tetap relatif kuat meskipun cuaca ekstrem menekan sebagian wilayah.
Dengan demikian, ancaman utama yang kini dihadapi Eropa bukan semata-mata kekurangan makanan secara fisik, melainkan kombinasi penurunan produksi komoditas tertentu, meningkatnya biaya pertanian, serta melemahnya keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Apabila tekanan cuaca dan biaya produksi berlanjut, risiko terhadap stabilitas harga dan ketahanan pangan Eropa dapat semakin besar dalam beberapa waktu mendatang.












