Ragam

Felix Siauw: Bagaimana Narasi Membentuk Persepsi Perang

×

Felix Siauw: Bagaimana Narasi Membentuk Persepsi Perang

Sebarkan artikel ini
Felix Siauw: Bagaimana Narasi Membentuk Persepsi Perang

SINDOSULSEL.COM, Ragam – Dalam sebuah tayangan video reflektif, Felix Siauw menyampaikan kritik mendalam terhadap narasi yang dibentuk dalam konflik Israel-Palestina, khususnya terhadap pemberitaan yang menyudutkan Hamas tanpa verifikasi menyeluruh.

Ia memulai dengan membacakan sejumlah berita yang menyebut Hamas melakukan penyerangan terhadap gereja Yunani yang menjadi tempat perlindungan warga sipil dan penyandang disabilitas, membunuh jurnalis, hingga menyiksa tenaga medis.

Namun, Felix segera mengajak pendengarnya untuk membalik narasi tersebut: bagaimana jika semua tuduhan itu dilakukan oleh Israel?

“Bayangkan kalau yang ngebom gereja Yunani itu adalah Israel. Gereja yang dibangun sejak abad kelima, dirawat umat Islam selama ratusan tahun, lalu dihancurkan. Bagaimana reaksi dunia Kristen?” tanya Felix.

Ia juga menyinggung laporan tewasnya jurnalis di Gaza, lebih banyak dibanding Perang Dunia Kedua.

“Kalau mereka membunuh jurnalis, artinya mereka tidak ingin kebenaran tersebar,” tegasnya.

Felix juga menyampaikan tentang kejahatan yang dituduhkan pada Hamas, seperti menyiksa sandera, membunuh bayi, dan memenggal kepala, namun menurutnya, semua itu belum terbukti.

Ia menyebut narasi seperti ini digunakan untuk menjustifikasi serangan besar Israel terhadap rakyat Gaza.

“Yang harus kita sadari adalah, kekuatan terbesar Israel itu narasi. Jika narasi mendukung mereka, maka kekejaman bisa terlihat masuk akal,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan insiden penembakan terhadap warga Gaza yang hendak mengambil bantuan kemanusiaan. Dalam kurun delapan hari, tercatat 102 orang tewas dan 490 lainnya terluka.

“Ini bukan fiksi, ini nyata. Tapi mengapa tidak ramai? Karena narasi tidak mendukung rakyat Gaza,” katanya.

Menutup video, Felix menekankan pentingnya berpikir kritis dan tidak membiarkan diri dikendalikan oleh media yang menyebar propaganda. Ia mengajak umat Muslim dan masyarakat umum untuk menggali kebenaran dari berbagai sumber dan tidak terjebak pada narasi tunggal yang mendukung kekuasaan.