SENGKANG, sindosulsel.com – Ketua Yayasan Pondok Pesantren As’adiyah Pusat, Bunyamin M. Yapid, menghadiri acara Wisuda ke-XIX Ma’had Aly As’adiyah Sengkang Tahun Akademik 2025–2026.
Kegiatan purnastudi yang berlangsung secara khidmat tersebut diselenggarakan di Sallo Hotel, Sengkang.
Pada momentum bersejarah ini, sebanyak kurang lebih 135 mahasantri secara resmi diwisuda sebagai kader ulama muda.
Nantinya, para lulusan ini akan ditugaskan untuk mengabdi dan mengemban amanah dakwah serta pendidikan di sejumlah cabang As’adiyah yang tersebar di wilayah Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, hingga Papua.
Dalam sambutannya, Bunyamin menegaskan bahwa seluruh keluarga besar As’adiyah merupakan pewaris atau “anak ideologi” dari Prof Nasaruddin Umar, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah.
“Kita semua ini adalah anak ideologinya beliau. Jangan biarkan beliau bekerja sendiri. Kita semua ini adalah anaknya, anak ideologinya,” tegas Bunyamin di hadapan para wisudawan dan tamu undangan.
Ia juga menyampaikan bahwa para alumni memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan pesantren di tengah masyarakat luas.
Menurutnya, surat keputusan (SK) penugasan para alumni yang ditandatangani langsung oleh Prof Nasaruddin Umar menjadi simbol amanah besar yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
“Saya sampaikan kepada adik-adik Ma’had Aly, SK penugasannya ditandatangani oleh Prof Nasaruddin Umar. SK saya juga ditandatangani oleh beliau. Hanya bedanya di kop suratnya. Ada kop As’adiyah, ada kop Kementerian Agama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bunyamin mengajak seluruh jajaran alumni, warga As’adiyah, dan simpatisan pesantren untuk aktif menyebarkan narasi positif mengenai As’adiyah, guru-guru pesantren, serta perjuangan Ketua Umum Pengurus Pusat.
Ia menilai, di era digital saat ini, media sosial memiliki pengaruh yang sangat dominan terhadap pembentukan persepsi masyarakat.
Oleh karena itu, ruang-ruang digital tidak boleh dibiarkan dipenuhi oleh informasi negatif dan fitnah tak berdasar.
“Hari ini sosial media dianggap nyata. Maka jangan biarkan ruang-ruang sosial media diisi oleh orang-orang yang selalu bercerita tidak baik. Mari kita isi ruang-ruang itu dengan cerita yang baik tentang As’adiyah, tentang guru-guru kita, khususnya tentang Ketua Umum,” katanya mengingatkan.
Bunyamin kembali menekankan bahwa perjuangan Prof Nasaruddin Umar untuk umat, bangsa, dan negara sangatlah besar sehingga layak mendapatkan dukungan penuh dari seluruh kader As’adiyah.
“Beliau hampir tidak pernah istirahat dalam 24 jam demi bangsa, negara, dan umat. Maka di samping menjaga nama baik As’adiyah di tempat tugas masing-masing, kita juga wajib menjaga nama baik pesantren dan guru-guru kita di media sosial,” lanjutnya.
Kepada para wisudawan, Bunyamin berpesan secara khusus agar mereka meneladani pemikiran serta perjuangan sang Ketua Umum.
Ia mendorong para ulama muda tersebut untuk terus menggaungkan gagasan-gagasan keislaman yang moderat demi kemaslahatan umat dan bangsa.
“Gaungkan pemikiran Ketua Umum, karena saya yakin dan haqqul yakin itu sangat baik untuk umat, bangsa, dan negara. Kalau ada oknum yang menyalahartikan lalu menyebarkan narasi negatif di media sosial, maka itu harus kita lawan dengan narasi yang baik dan benar,” tegasnya.
Ia sangat optimistis bahwa keluarga besar As’adiyah jauh lebih besar dan kuat dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan, persatuan, dan dakwah yang menyejukkan.
Wisuda XIX Ma’had Aly As’adiyah ini pun menjadi momentum penting dalam melahirkan generasi ulama muda yang siap mengabdi di tengah masyarakat, sekaligus melanjutkan estafet perjuangan dakwah dan pendidikan pesantren di seluruh penjuru Indonesia.












