SINDOSULSEL.COM, Makassar – Tokoh yang sering bersuara lantang ke pemerintah, Rocky Gerung kembali melontarkan kritikannya kepada pemerintah.
Kali ini disampaikan saat menjadi pembicara di hadapan mahasiswa dalam Diskusi intelektual bertajuk Public Lecture Series ketiga yang diinisiasi oleh Pandu Negeri, Sabtu (9/5/2026).
Selain Rocky Gerung, dialog tersebut juga menghadirkan tokoh lain seperti, Hamid Awaluddin dan Andi Luhur Prianto, dan membedah masa depan Indonesia di tengah sengkarut geopolitik dunia.
Roy Suryo Gandeng Rocky Gerung Jadi Saksi Ahli Kasus Ijazah Jokowi
Rocky Gerung membawa audiens kembali pada pemikiran Soekarno melalui konsep “To Build The World Anew”.
Rocky melontarkan kritik pedas terhadap kondisi sosial-politik nasional saat ini yang ia sebut sedang mengalami homeless mind atau kehilangan orientasi berpikir.
“Masyarakat Indonesia kehilangan “rumah” bagi pikirannya karena arah politik yang tidak jelas,” tegasnya.
Dia juga menyebut, gagasan Bung Karno tentang solidaritas Asia-Afrika tetap relevan sebagai fondasi menghadapi dunia baru.
Diskusi Soal Kinerja Kodim Tangani Aksi Demo, Admin WA Group Kodim Langsung Kicik Wartawan
“Satu-satunya cara keluar dari ketiadaan harapan adalah dengan membangun politics of hope (politik harapan),” ungkapnya.
Sementara, Akademisi Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Prianto, menyoroti fenomena electoral autocracy, di mana proses pemilu seringkali hanya menjadi bungkus formalitas yang justru melahirkan pemimpin otoriter.
“Pemilu demokratis tidak selalu menghadirkan pemimpin yang demokratis. Ada laporan bahwa demokrasi kita justru ‘dicuri’ di kotak suara,” tegas Luhur.
Beralih ke skala internasional, mantan Dubes RI untuk Rusia, Hamid Awaluddin, menguliti rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina.
Menurutnya, ketegangan di Timur Tengah dan Amerika Latin bukan sekadar isu politik lokal, melainkan strategi AS untuk memutus rantai pasok energi Cina.
Dia memaparkan data bahwa ekspor minyak Iran dan Venezuela adalah jantung industri Cina. Dengan mengganggu stabilitas di negara-negara pemasok tersebut, AS berupaya meruntuhkan hegemoni ekonomi Cina yang sulit ditandingi secara industri.
Diskusi yang dipandu oleh Seno Bagaskoro dan Setiawan ini berhasil menarik antusiasme ratusan mahasiswa.
Acara ini bukan sekadar kuliah umum, melainkan upaya memprovokasi generasi muda Makassar untuk tetap berpikir kritis di tengah mundurnya kualitas demokrasi global. (*)












