OPINIPendidikan

Benarkah Indonesia Terhambat oleh Asing?

×

Benarkah Indonesia Terhambat oleh Asing?

Sebarkan artikel ini
Benarkah Indonesia Terhambat oleh Asing?
Foto : Baharuddin Solongi, Pemerhati Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik.(ist)

Oleh: Baharuddin Solongi
(Pemerhati Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik)

MAKASSAR, sindosulsel.com – Delapan puluh tahun setelah kemerdekaan, Indonesia masih bergulat dengan berbagai persoalan mendasar: kemiskinan, ketimpangan, korupsi, rendahnya kualitas pelayanan publik, dan belum tercapainya status sebagai negara maju. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah Indonesia memang sengaja dihambat oleh negara-negara maju, khususnya negara Barat dan Eropa?

Pertanyaan ini bukan sekadar teori konspirasi. Ia lahir dari pengalaman sejarah yang panjang. Selama ratusan tahun, Nusantara hidup dalam kolonialisme yang menguras sumber daya alam sekaligus membentuk struktur ekonomi yang lebih melayani kepentingan luar daripada kepentingan rakyatnya sendiri. Warisan kolonial tersebut tidak hilang begitu saja ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945.

Dalam hubungan internasional modern, negara-negara besar tetap memiliki pengaruh yang signifikan. Mereka menguasai teknologi, pasar keuangan global, industri strategis, jaringan perdagangan, hingga lembaga-lembaga internasional yang memengaruhi arah kebijakan ekonomi dunia. Dalam konteks tertentu, kepentingan negara-negara kuat memang tidak selalu sejalan dengan kepentingan negara berkembang seperti Indonesia.

Kita dapat melihat bagaimana negara-negara maju sering memberikan subsidi besar kepada sektor pertanian mereka, sementara negara berkembang didorong membuka pasar secara lebih luas. Kita juga menyaksikan bagaimana penguasaan teknologi, paten, dan rantai pasok global membuat negara berkembang sering berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Dalam banyak kasus, nilai tambah terbesar justru dinikmati negara yang menguasai teknologi dan industri pengolahan, sementara negara pemilik bahan baku memperoleh porsi yang lebih kecil.

Karena itu, mengatakan bahwa tidak ada pengaruh asing sama sekali tentu tidak sesuai dengan realitas.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pengaruh tersebut cukup untuk menjelaskan mengapa Indonesia belum menjadi negara maju?

Di sinilah fakta mulai berbicara.

Jika faktor asing merupakan penyebab utama, maka sulit menjelaskan mengapa Korea Selatan yang pada tahun 1960-an lebih miskin daripada Indonesia mampu berubah menjadi negara industri maju. Sulit pula menjelaskan keberhasilan Singapura yang hampir tidak memiliki sumber daya alam, atau Vietnam yang pernah mengalami perang panjang tetapi kini tumbuh sebagai salah satu pusat manufaktur dunia.