MAKASSAR, sindosulsel.com – Sebanyak 963 kasus baru HIV/AIDS tercatat di Sulawesi Selatan selama periode Januari hingga Juli 2026.
Yang menjadi perhatian, sekitar 35 persen kasus ditemukan pada kelompok usia muda 15-24 tahun, menunjukkan tingginya kerentanan generasi muda terhadap penularan HIV.
Data tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penguatan Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS Menuju Ending AIDS 2030 yang digelar di Hotel Travellers Phinisi, Kota Makassar, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang mempertemukan wakil bupati dan wakil wali kota se-Sulawesi Selatan, instansi vertikal, organisasi masyarakat, PMI, serta pengelola program HIV/AIDS kabupaten/kota itu bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor dalam menekan angka penularan HIV/AIDS.
Baca juga : 80 Persen Kasus Baru HIV/AIDS di Palopo Didominasi Kelompok LSL
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. M. Ishak Iskandar, mewakili Gubernur Sulsel saat membuka kegiatan mengatakan penanganan HIV/AIDS masih membutuhkan perhatian dan komitmen serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rakor tersebut, jumlah temuan kasus HIV/AIDS di Sulawesi Selatan menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir.
“Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 2.660 kasus, kemudian turun menjadi 2.486 kasus pada 2024, dan kembali menurun menjadi 1.939 kasus pada 2025,” ujar Ishak Iskandar.
“Sementara hingga Juli 2026, jumlah kasus yang ditemukan mencapai 963 kasus,” lanjutnya.
Dari total temuan tersebut, Kota Makassar menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 445 kasus.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Gowa dengan 74 kasus, Bulukumba 34 kasus, Jeneponto 27 kasus, Luwu Timur 23 kasus, dan Bantaeng 20 kasus.
Selain sebaran wilayah, kelompok usia penderita juga menjadi perhatian.
Kelompok usia produktif 25-49 tahun masih mendominasi dengan sekitar 58 persen kasus.
Baca juga : Tekan Angka HIV di Makassar, Pemkot Gandeng PKBI Siapkan Strategi Komunikasi Baru
“Namun, kelompok usia muda 15-24 tahun menyumbang sekitar 35 persen kasus, sementara usia di atas 50 tahun mencapai lebih dari 6 persen dan usia di bawah 15 tahun sekitar 1 persen,” sebut mantan Kadis Kesehatan Sulsel ini.
Tingginya angka kasus pada kelompok usia muda dan produktif dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mencapai target Ending AIDS 2030.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Sulawesi Selatan, Muharram Sahude, menegaskan bahwa keberhasilan program pencegahan HIV/AIDS tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Menurutnya, diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, hingga lembaga pemerhati HIV/AIDS untuk memperluas edukasi, deteksi dini, dan akses pengobatan.
Dalam rakor tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Dr. dr. Evi Mustikawati Arifin, turut memaparkan perkembangan situasi HIV/AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) di Sulawesi Selatan beserta arah kebijakan penanganannya.
Sementara itu, anggota Tim Asistensi KPAP Sulsel, Prof. Arlin Adam, menyoroti pentingnya membangun ekosistem pencegahan HIV yang etis, terkoordinasi, serta bebas stigma dan diskriminasi.
Menurutnya, stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) masih menjadi salah satu hambatan utama dalam penjangkauan, pemeriksaan kesehatan, hingga kepatuhan menjalani pengobatan.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota akan mengoptimalkan pendekatan terpadu melalui sosialisasi yang dikolaborasikan dengan kegiatan donor darah, skrining kesehatan, penyuluhan bahaya narkotika, hingga edukasi di lingkungan sekolah.
Baca juga : Kasus HIV/AIDS di Bone Alami Penurunan, Wabup: Cegah Pola Hidup Menyimpang
Program tersebut akan melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, PMI, Badan Narkotika Nasional (BNN), aparat penegak hukum, serta berbagai organisasi masyarakat yang bergerak di bidang HIV/AIDS.
Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah pelaksanaan sosialisasi dan uji coba pengambilan sampel kesehatan di sekolah-sekolah dengan sasaran awal satu hingga dua sekolah di setiap kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, yang turut hadir dalam rakor tersebut menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS tidak boleh hanya berfokus pada aspek medis semata.
“Penanganan tidak hanya dari aspek medis, tetapi juga dukungan sosial dan mental untuk mengurangi diskriminasi terhadap penderita,” ujar Andi Akmal.
Ia menilai sinergi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran, memperluas deteksi dini, menjamin akses pengobatan, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi ODHIV.
Melalui penguatan koordinasi lintas sektor tersebut, Sulawesi Selatan menargetkan dapat menekan angka penularan HIV/AIDS secara signifikan dan mewujudkan target Ending AIDS 2030.












