NASIONAL, sindosulsel.com – Geliat perebutan kursi kepemimpinan jelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kian terasa menghangat pada Minggu (28/06/2026).
Arus dukungan bagi Menteri Agama RI, Prof Nazaruddin Umar, untuk menduduki posisi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 semakin deras mengalir.
Sokongan masif ini terutama disuarakan secara lantang oleh simpul-simpul massa dari kawasan Indonesia Timur.
Sosok Prof Nazaruddin Umar dipandang memiliki kualifikasi yang sangat komprehensif untuk menakhodai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Tanah Air tersebut.
Para tokoh dan kader akar rumput menilai bahwa rekam jejaknya sebagai ulama, akademisi, hingga cendekiawan muslim berpadu apik dengan jam terbang keorganisasian yang tinggi.
Keunggulan ini diyakini mampu menjadikannya figur pemersatu bagi beragam kelompok di tubuh Nahdliyin.
Berdasarkan sebaran materi sosialisasi yang santer beredar, Prof Nazaruddin Umar bukanlah sosok baru di lingkungan NU.
Kiprah pergerakannya telah terukir kokoh sejak ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), berlanjut ke struktural PWNU Sulawesi Selatan, hingga akhirnya menembus jajaran elit PBNU.
Baca Juga : Prabowo Kumpulkan Ribuan Intelektual di JICC, Ada Misi Rahasia untuk Masa Depan Indonesia
Portofolionya dinilai semakin mentereng berkat pengalamannya sebagai pengasuh pondok pesantren dan kiprah akademisnya, termasuk saat mengemban amanah strategis sebagai Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kombinasi latar belakang inilah yang dipandang sebagai modal berharga dalam memperkokoh kapasitas manajerial dan kepemimpinannya kelak.
Di mata para loyalisnya, Prof Nazaruddin Umar juga menyimpan kekuatan pada luasnya jaringan internasional yang ia rawat.
Kepiawaiannya dalam membangun dialog keagamaan lintas batas, baik di kancah nasional maupun global, diproyeksikan mampu mendongkrak peran strategis NU di mata dunia, tanpa sedikit pun mencabut akar tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Baca Juga : Ajak Massa Jaga Ruang Digital, Meutya Hafid Peringatkan Bahaya Hoaks Saat Demo
Gelombang dukungan terbesar yang menyokongnya terpantau mayoritas datang dari wilayah luar Pulau Jawa, membentang dari Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga ke ujung timur Papua.
Basis massa ini menaruh asa besar agar nakhoda PBNU berikutnya bisa lebih peka dalam mengakomodasi dinamika daerah serta memastikan pemerataan pembangunan organisasi hingga ke pelosok Nusantara.
Menurut pandangan para pendukung, PBNU saat ini sangat membutuhkan figur pemimpin yang tidak berjarak dengan kaum akar rumput, mengerti detak nadi persoalan di daerah, dan sanggup merajut erat persatuan jamaah di tengah gempuran tantangan global.
“NU membutuhkan energi baru, kepemimpinan yang merakyat, serta arah organisasi yang lebih visioner agar mampu menjawab tantangan masa depan,” bunyi petikan pesan kampanye yang gencar disuarakan para relawannya.
Kendati konstelasi dukungan dari daerah terus mengerucut, keputusan final terkait takhta Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 ini tetap dipegang penuh oleh para utusan muktamirin.
Penentuannya akan mengacu pada mekanisme resmi yang tertuang rapi dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama.
Ajang permusyawaratan tertinggi kaum sarungan mendatang diprediksi akan menjadi tonggak krusial dalam merumuskan haluan organisasi lima tahun ke depan.
Di sinilah komitmen NU kembali diuji untuk terus meneguhkan posisinya sebagai entitas keagamaan yang inklusif, moderat, serta senantiasa membawa kemaslahatan bagi bangsa dan perdamaian peradaban dunia.












