OlahragaSulsel

Emas untuk Guru yang Telah Pergi

×

Emas untuk Guru yang Telah Pergi

Sebarkan artikel ini
Emas untuk Guru yang Telah Pergi
Mardiansyah, Steven, dan Ildha Yusuf, tiga murid almarhum Annur Halidi.

OLAHRAGA, sindosulsel.com – Momen haru mewarnai Kejuaraan Nasional Karate-Do Gojukai Piala Jaksa Agung RI III Tahun 2026 di GOR Ciracas, Jakarta Timur.

Di tengah gemerlap prestasi dan kilau medali, dua karateka asal Sulawesi Selatan menghadirkan sosok guru yang telah tiada dalam setiap keberhasilan mereka.

Mardiansyah dan Ildha Yusuf, dua murid almarhum Shidoin Annur Halidi, sukses menorehkan prestasi membanggakan pada kejuaraan nasional tersebut.

Mardiansyah tampil sebagai juara 1 kumite senior sekaligus meraih gelar Best of the Best (BOB).

Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena sang guru, Annur Halidi, semasa hidupnya juga pernah meraih juara sekaligus gelar BOB pada kejuaraan nasional.

Sementara Ildha Yusuf berhasil menjadi juara 1 kata beregu putri, serta meraih juara 2 kata perorangan dan bunkai.

Namun, di balik prestasi tersebut, ada sebuah penghormatan yang membuat kemenangan mereka terasa berbeda.

Sesaat setelah memastikan diri berdiri di podium, Mardiansyah dan Ildha mengangkat foto almarhum Shidoin Annur Halidi.

Di samping keduanya hadir Steven, yang juga merupakan murid Annur dan kini mengabdi sebagai prajurit TNI.

Bagi mereka, medali dan gelar juara bukan sekadar buah dari latihan, kerja keras, dan perjuangan di arena.

Prestasi itu juga menjadi persembahan bagi guru yang telah membimbing, mendidik, serta membentuk karakter mereka sejak mengenal Karate-Do Gojukai.

Dengan senyum penuh haru, Mardiansyah dan Ildha memperlihatkan foto sang guru kepada publik.

Baca Juga : PS Luwu Juara Soeratin U15 Sulsel, Tiket Nasional Digenggam

Gestur sederhana itu menjadi simbol penghormatan, cinta, dan rasa terima kasih kepada sosok yang telah mengabdikan hidupnya untuk dunia karate.

Almarhum Annur Halidi dikenal bukan hanya sebagai pelatih, tetapi juga sebagai pendidik.

Ia menanamkan nilai disiplin, keberanian, kejujuran, dan rasa hormat kepada setiap muridnya.

Bagi Annur, karate bukan semata tentang memenangkan pertandingan.

Lebih dari itu, karate menjadi jalan untuk membentuk manusia yang memiliki karakter kuat, disiplin, dan berakhlak baik.

Banyak murid mengenangnya sebagai sosok yang tegas di arena latihan, namun penuh perhatian di luar dojo.

Baca  PS Luwu U-15 Menang 4-2 atas PS Malaka, Amin dan Zakkir Cetak Gol Cepat

Ia hadir memberikan motivasi ketika anak didiknya terjatuh, menguatkan saat mereka gagal, dan menjadi salah satu orang yang paling bangga ketika murid-muridnya meraih prestasi.

Kini, jejak itu kembali terlihat di podium Kejuaraan Nasional Piala Jaksa Agung RI III Tahun 2026.

Baca Juga : Atlet Pickleball Bone Intensifkan Latihan Jelang Porprov Sulsel

Mardiansyah tidak hanya menjadi juara kumite senior, tetapi juga meraih gelar BOB, sebuah pencapaian yang mengingatkan pada prestasi sang guru yang pernah meraih gelar serupa di tingkat nasional.

Sementara Ildha menunjukkan konsistensinya dengan meraih juara 1 kata beregu putri dan tiga capaian prestasi lainnya, yakni juara 2 kata perorangan dan bunkai.

Kepergian Annur Halidi beberapa waktu lalu memang meninggalkan duka bagi keluarga besar Karate-Do Gojukai.

Namun, nilai-nilai yang diwariskannya tetap hidup dalam setiap gerakan, semangat, dan prestasi para muridnya.

“Medali ini untuk guru kami. Beliau mungkin sudah tidak bersama kami, tetapi ajaran dan semangatnya selalu ada di setiap pertandingan yang kami jalani,” kata Mardiansyah.

Bersama Steven yang kini menjadi prajurit TNI, Mardiansyah dan Ildha menjadi bagian dari murid-murid yang meneruskan warisan sang guru, bukan hanya melalui prestasi di arena, tetapi juga melalui sikap hormat dan penghargaan kepada orang yang telah membimbing mereka.

Bagi para murid, Annur Halidi bukan sekadar pelatih karate.

Ia adalah panutan, sosok ayah bagi banyak atlet di dojo, sekaligus penjaga mimpi yang mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukan hanya mengalahkan lawan, melainkan mampu mengalahkan diri sendiri.

Di podium Jakarta itu, medali emas memang tergantung di leher para juara.

Gelar BOB juga menjadi bukti kualitas seorang atlet.

Namun di hati Mardiansyah, Ildha, dan para murid lainnya, kemenangan sesungguhnya adalah ketika nama sang guru tetap dikenang dan dihormati.

Karena sejatinya, guru yang hebat tidak hanya mencetak juara.

Ia menciptakan generasi yang mampu menjaga nilai, menghormati perjuangan, dan meneruskan warisan yang telah ditinggalkannya.