Nasional

Empat Gunung Api Erupsi di Hari yang Sama, Saling Berhubungan?

×

Empat Gunung Api Erupsi di Hari yang Sama, Saling Berhubungan?

Sebarkan artikel ini
Empat Gunung Api Erupsi di Hari yang Sama, Saling Berhubungan?
Dokumentasi. Aktivitas Gunung Semeru di Jawa Timur. Semeru menjadi salah satu dari empat gunung api yang tercatat mengalami erupsi dalam waktu berdekatan pada Minggu (06/09/2026). Foto: Ikhsan Nurzain/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

NASIONAL, sindosulsel.com – Empat gunung api yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia mengalami erupsi dalam waktu berdekatan pada Minggu (06/09/2026) pagi.

Keempatnya adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Semeru di Jawa Timur.

Data Badan Geologi Kementerian ESDM melalui MAGMA Indonesia menunjukkan erupsi terjadi pada waktu yang berbeda, bukan pada saat yang persis sama.

Jika disetarakan menggunakan waktu Indonesia barat, rangkaian tersebut berlangsung dalam rentang kurang dari lima jam, mulai dari erupsi Gunung Ibu hingga Gunung Semeru.

Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat tercatat mengalami erupsi pada pukul 04.55 WIT atau 02.55 WIB.

Badan Geologi mencatat kolom letusan mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 1.725 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang bergerak ke arah timur laut.

Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 15 milimeter dan durasi 35 detik.

Aktivitas Gunung Ibu belum berhenti pada kejadian tersebut. Gunung itu kembali dilaporkan erupsi pada pukul 10.04 WIT dengan kolom abu sekitar 600 meter di atas puncak.

Di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Gunung Ili Lewotolok mengalami erupsi pada pukul 06.11 WITA.

Kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 1.823 meter di atas permukaan laut. Abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat.

Erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekitar 40 detik.

Sekitar 30 menit kemudian, Ili Lewotolok kembali erupsi pada pukul 06.41 WITA.

Baca Juga : Anak Krakatau Erupsi Berjam-jam

Kali ini kolom abu membubung lebih tinggi, sekitar 600 meter di atas puncak, berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan mengarah ke tenggara.

“Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 22 detik,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok Khairul Imam Tarmizi.

Aktivitas Ili Lewotolok memang telah berlangsung intens. PVMBG mencatat 311 letusan sepanjang Sabtu (05/09/2026) dengan tinggi kolom sekitar 300 hingga 500 meter.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga kembali mengalami erupsi pada pukul 07.10 WIB.

Badan Geologi mencatat erupsi tersebut pada seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi 16 detik. Tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati secara visual.

Erupsi itu terjadi setelah Anak Krakatau melewati episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam.

Baca Juga : Erupsi Anak Krakatau Tutup Enam Bandara, Radin Inten II hingga Pukul 18.00 WIB

Kepala PVMBG Badan Geologi Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan rekaman instrumental menunjukkan erupsi menerus dimulai pada Jumat (04/09/2026) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (06/09/2026) pukul 00.04 WIB.

“Episode gempa erupsi menerus mulai terekam sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB,” kata Rita, sebagaimana dikutip ANTARA dari konferensi pers PVMBG.

Anak Krakatau kemudian kembali erupsi pada pukul 03.53 WIB selama sekitar 30 detik sebelum erupsi berikutnya tercatat pukul 07.10 WIB.

Aktivitas Anak Krakatau menjadi yang paling luas dampaknya di antara empat gunung tersebut. Abu vulkanik menyebar ke Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu dan mengganggu operasional sejumlah bandara.

Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang menjadi gunung berikutnya yang mengalami erupsi pada pagi hari.

Erupsi terjadi pukul 07.51 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak Mahameru atau 4.676 meter di atas permukaan laut.

“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 07.51 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulis yang dikutip ANTARA.

Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal bergerak ke arah timur. Erupsi terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan berlangsung selama 102 detik.

Gunung Semeru hingga Minggu masih berada pada Level III atau Siaga.

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, aktivitas dalam radius 500 meter dari sempadan Besuk Kobokan juga harus dihindari karena berpotensi terlanda perluasan awan panas maupun aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.

Terjadinya beberapa erupsi dalam waktu berdekatan dapat memunculkan anggapan bahwa gunung-gunung tersebut saling terhubung atau satu erupsi memicu erupsi lainnya.

Namun, belum ditemukan keterangan PVMBG yang menyatakan empat erupsi pada 6 September tersebut dipicu oleh satu proses geologi yang sama.

PVMBG justru baru beberapa hari sebelumnya menjelaskan fenomena serupa ketika enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu berdekatan pada akhir Agustus.

Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan masing-masing gunung api mempunyai sistem magma dan proses menuju erupsi sendiri.

“Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri,” kata Rita dalam penjelasan PVMBG yang dikutip ANTARA, Rabu (02/09/2026).

Saat itu PVMBG menyatakan tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi secara bersamaan.

Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Menurut PVMBG, kondisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik memungkinkan sejumlah gunung mengalami erupsi pada hari yang sama tanpa harus memiliki keterkaitan sistemik.

Karena itu, kejadian pada Minggu pagi lebih tepat disebut sebagai empat gunung api yang mengalami erupsi dalam waktu berdekatan, bukan empat gunung yang meletus secara serentak akibat satu pemicu.

Masyarakat di sekitar masing-masing gunung diminta tetap mengikuti rekomendasi PVMBG dan Badan Geologi karena zona bahaya serta karakter ancaman setiap gunung berbeda.