Luwu

Gubernur Sulsel : Jangan Hanya Angkat Bangkung, Mari Sama-Sama Pegang Bingkung

×

Gubernur Sulsel : Jangan Hanya Angkat Bangkung, Mari Sama-Sama Pegang Bingkung

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sulsel : Jangan Hanya Angkat Bangkung, Mari Sama-Sama Pegang Bingkung

SINDOSULSEL.COM, Luwu – Gubernur Sulawesi Selatan, menyampaikan sambutan yang luar biasa, penuh makna dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Luwu ke-66 tahun 2025 di Lapangan Andi Djemma Belopa, Jumat, (4/7/2025).

Dalam sambutan yang penuh nuansa kearifan lokal, Andi Sudirman Sulaiman, menyampaikan filosofi mendalam tentang keseimbangan pembangunan dan kepedulian lingkungan lewat istilah lokal “bangkung dan bingkung.”

“Kalau ada yang merusak lingkungan, kita bangkungi. Tapi kalau dia tidak merusak, kita sama-sama mak bingkung – sama-sama cangkul, sama-sama cari rezeki,” ucap Gubernur di hadapan jajaran pemerintah dan masyarakat Kabupaten Luwu, Kamis (3/7).

Baca Juga : Gubernur Andi Sudirman Janjikan Rp 250 Miliar Anggaran Rumah Sakit Regional di Bua

Dalam bahasa Bugis–Luwu, “bangkung” berarti parang, alat tajam yang identik dengan kekerasan atau penindakan. Sementara “bingkung” berarti cangkul, alat yang menggambarkan kerja keras, gotong royong, dan usaha pertanian yang damai.

Gubernur menggunakan istilah ini sebagai simbol moral dan sosial.

Bangkung digunakan secara kiasan untuk mengingatkan atau menghentikan tindakan yang merusak lingkungan dan kepentingan publik.

Bingkung adalah simbol kerja kolektif, etos gotong royong, dan cara mencari rezeki yang berkah serta berkelanjutan.

“Filosofi ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh membiarkan segelintir orang merusak alam demi kepentingan pribadi. Tapi jika ada yang bekerja dengan baik dan tidak merusak, kita harus mendukung dan bersama-sama turun tangan,” ujar Andi Sudirman.

Baca  Lima Tahun Bersama Land4Lives, Bone Perkuat Komitmen Menuju Lanskap Sehat dan Pangan Berkelanjutan

Pernyataan Gubernur ini muncul di tengah seruannya agar pembangunan infrastruktur tidak mengorbankan ekosistem.

Ia menegaskan pentingnya melindungi hutan, sumber air, dan alam sebagai warisan generasi mendatang, seraya tetap mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kearifan lokal.

“Satu pohon yang kita tanam, kalau berbuah dan menghasilkan oksigen, itu bisa jadi pahala. Jangan sampai kita hanya mencari untung sendiri dengan merusak semua yang menjadi sumber kehidupan orang banyak,” katanya.

Gubernur juga menekankan bahwa pemimpin yang baik bukan hanya soal kecerdasan, tetapi soal karakter.

Baca Juga : Pemkab Luwu Anggarkan Rp250 Juta untuk Event Domino Nasional, Ini Target Besar di Baliknya

Maka dari itu, setiap keputusan yang diambil harus berpijak pada nilai-nilai moral, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial.

“Bangkung itu bisa mengancam, tapi bingkung itu menghidupi. Kalau kita lebih banyak mengangkat bangkung daripada memegang bingkung, maka kehancuran bisa terjadi,” pesan Gubernur.

Sambutan Gubernur ini tak hanya menyentuh sisi teknis pembangunan, tapi juga menggugah kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam, antara pembangunan dan kelestarian.

“Kalau dulu pemimpin itu diukur dari kekuasaannya, sekarang pemimpin sejati adalah yang bisa menyentuh hati rakyat dan menjaga keseimbangan. Mari kita pegang bingkung bersama, bukan saling menghunus bangkung,” tutupnya penuh makna.