OPINIPendidikan

Kampus, Yayasan, dan Misi Besar Mewujudkan Desa Mandiri

×

Kampus, Yayasan, dan Misi Besar Mewujudkan Desa Mandiri

Sebarkan artikel ini
Kampus, Yayasan, dan Misi Besar Mewujudkan Desa Mandiri
Baharuddin Solongi.(ist)

Namun, harus diakui bahwa hubungan antara kampus dan desa sering kali masih bersifat sporadis. Banyak penelitian yang berhenti menjadi laporan akademik.

Banyak kegiatan pengabdian masyarakat yang berakhir ketika anggaran program selesai. Tidak sedikit pula inovasi yang gagal diterapkan karena tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Akibatnya, ilmu pengetahuan yang semestinya menjadi motor perubahan justru terjebak dalam ruang-ruang akademik yang eksklusif.

Karena itu, diperlukan perubahan paradigma. Yayasan penyelenggara perguruan tinggi harus mulai menempatkan pembangunan desa sebagai bagian dari visi institusional.

Kampus perlu didorong untuk memiliki desa binaan yang didampingi secara berkelanjutan, bukan sekadar lokasi kegiatan sesaat. Desa harus menjadi laboratorium sosial tempat dosen, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat bekerja bersama mencari solusi atas persoalan yang dihadapi.

Tantangan yang dihadapi memang tidak sederhana. Keterbatasan pendanaan, rendahnya hilirisasi hasil penelitian, kesenjangan literasi digital, hingga kapasitas sumber daya manusia desa yang beragam merupakan hambatan yang nyata.

Di sisi lain, perubahan sosial dan perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Jika desa tidak mampu beradaptasi, maka kesenjangan pembangunan akan semakin melebar.

Oleh sebab itu, strategi yang dibutuhkan bukan lagi pendekatan sektoral yang parsial, melainkan pendekatan kolaboratif. Yayasan dan perguruan tinggi perlu membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, dan media massa.

Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui program sekolah desa, inkubator BUMDes, desa digital, pusat data desa, pengembangan kewirausahaan pemuda, hingga pendampingan desa wisata berbasis potensi lokal.

Lebih jauh lagi, perguruan tinggi perlu menjadi pusat inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat desa. Hasil penelitian harus dihilirisasikan menjadi teknologi tepat guna, model bisnis yang aplikatif, dan kebijakan pembangunan yang berbasis bukti.

Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan perubahan sosial yang terukur.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan selalu bertumpu pada kualitas manusia dan kekuatan pengetahuan.

Infrastruktur memang penting, tetapi tanpa peningkatan kapasitas masyarakat, pembangunan akan kehilangan daya ungkitnya. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi sangat relevan sebagai institusi yang membangun manusia sekaligus membangun peradaban.

Pada akhirnya, keberhasilan yayasan penyelenggara perguruan tinggi swasta tidak hanya dapat diukur dari jumlah mahasiswa, luas kampus, atau banyaknya program studi yang dimiliki. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana keberadaan kampus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Ketika sebuah perguruan tinggi berhasil membantu lahirnya desa-desa yang mandiri, produktif, dan sejahtera, sesungguhnya kampus tersebut telah menjalankan fungsi paling mulia dari pendidikan tinggi.

Desa mandiri bukan hanya tujuan pembangunan desa, melainkan fondasi kemajuan bangsa. Dan dalam perjalanan menuju cita-cita tersebut, yayasan penyelenggara perguruan tinggi swasta memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab sejarah untuk menjadi penggerak perubahan.

Sebab masa depan Indonesia tidak hanya dibangun di ruang-ruang kelas, tetapi juga di sawah, kebun, pesisir, dan desa-desa tempat kehidupan bangsa ini berakar. Terima kasih