Parepare

Ketua KKLR Sulsel: Pemimpin Paguyuban Harus Jadi Role Model, Bukan Beban Organisasi!

×

Ketua KKLR Sulsel: Pemimpin Paguyuban Harus Jadi Role Model, Bukan Beban Organisasi!

Sebarkan artikel ini
Ketua KKLR Sulsel: Pemimpin Paguyuban Harus Jadi Role Model, Bukan Beban Organisasi!

SINDOSULSEL.COM, Parepare – Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Provinsi Sulawesi Selatan, Hasbi Syamsu Ali menyambut baik hasil Musyawarah Daerah (Musda) Badan Pengurus Daerah (BPD) KKLR Kota Parepare.

Musda KKLR Parepare yang dirangkaikan dengan kegiatan Halalbihalal pada Sabtu (19/04/2025) malam berjalan lancar.

Dalam kegiatan tersebut, Kaharuddin Kadir terpilih secara aklamasi sebagai Ketua BPD KKLR Kota Parepare yang baru, menggantikan Iwan Asaad.

Dalam pernyataannya pada Minggu (20/04/2025), Hasbi mengapresiasi Musda KKLR Parepare sebagai contoh pelaksanaan organisasi yang inspiratif dan patut ditiru oleh daerah lainnya.

“Alhamdulillah, kami ucapkan selamat karena Musda KKLR Parepare berjalan lancar. Hasil Musda ini ikut mengangkat marwah KKLR, apalagi yang terpilih adalah tokoh masyarakat yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPRD Parepare. Kita semua tentu merasa bangga,” ujarnya.

Hasbi menekankan pentingnya karakter kepemimpinan dalam mengelola organisasi paguyuban seperti KKLR yang bersifat inklusif dan mampu merangkul semua kalangan.

Ia menjelaskan bahwa konsep “paguyuban” berarti membangun kebersamaan tanpa diskriminasi terhadap latar belakang anggota. Paguyuban KKLR, kata dia, harus menjadi wadah yang terbuka bagi semua elemen masyarakat.

“Berpaguyuban itu berarti membawa semua orang, apakah dia sekolah atau tidak, pengusaha, birokrat, politisi, atau profesional. Tidak boleh ada yang tertinggal,” tuturnya.

Baca  1. Terima Kunjungan Wabup Tanjung Jabung Timur, Bupati Sidrap Bahas Potensi Daerah 2.

Meski terbuka, Hasbi menegaskan bahwa organisasi tetap membutuhkan pemimpin yang mampu mengarahkan program secara efektif.

Menurutnya, pemimpin organisasi harus memiliki karakter kuat, visi yang jelas, serta kemampuan menempatkan diri dalam berbagai situasi.

“Ketua organisasi itu adalah panutan. Ia harus bisa menakar dan memahami dirinya sendiri, serta tidak menjadi beban bagi orang lain,” tambah Hasbi, yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Teknik Sipil (IKATSI) Unhas.

Lebih lanjut, ia mengibaratkan peran dalam organisasi seperti tim sepak bola, di mana terdapat beragam karakter seperti pekerja, penggagas, operator, hingga pencetak gol. Keberhasilan organisasi, menurutnya, ditentukan oleh sinergi antar peran tersebut.

“Organisasi itu tidak semuanya harus jadi pencetak gol. Tapi harus tahu kapan harus bicara, kapan harus menenangkan, dan kapan harus bergerak. Jangan merasa bisa, padahal tidak bisa apa-apa. Itu bisa jadi blunder,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Hasbi mengingatkan bahwa tidak semua orang cocok menjadi pemimpin.

“Diperlukan kepekaan, kebijaksanaan, dan kemampuan menempatkan diri agar organisasi dapat berjalan harmonis dan mencapai tujuannya,” tutupnya.