Sidrap

Kisah Pilu Ladali, Lansia Tunanetra di Sidrap yang Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

×

Kisah Pilu Ladali, Lansia Tunanetra di Sidrap yang Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

Sebarkan artikel ini
Kisah Pilu Ladali, Lansia Tunanetra di Sidrap yang Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

SIDRAP, sindosulsel.com – Di usia senja yang seharusnya diisi dengan ketenangan dan kenyamanan, seorang kakek bernama Ladali (70) justru harus berjuang keras menjalani hidup dalam keterbatasan yang menyayat hati.

Warga Kelurahan Wette’e, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) tersebut terpaksa hidup sebatang kara di sebuah gubuk yang kondisinya jauh dari kata layak huni.

Dengan kondisi kedua mata yang sudah tidak mampu melihat dengan jelas, Ladali tetap berusaha bertahan menjalani hari-harinya seorang diri.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi kediamannya pada hari Senin (15/06/2026), rumah yang ditempati lansia tersebut tampak sangat memprihatinkan.

Dinding dan material bangunan lainnya terlihat rapuh, nyaris roboh, serta tidak lagi memberikan jaminan keamanan bagi penghuninya.

Penderitaan Ladali tak berhenti sampai di situ. Ia hidup tanpa adanya aliran listrik yang memadai di dalam rumahnya.

Saat malam tiba, ia harus menghabiskan waktunya dalam gelap gulita, berbekal indra pendengaran dan peraba di tengah keterbatasan penglihatan fisiknya.

Untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Ladali sepenuhnya hanya bisa mengandalkan kepedulian para tetangga yang dengan tulus berbagi makanan.

Salah seorang tetangganya, Juwarni, mengaku sangat tidak tega setiap kali melihat kondisi Ladali. Bersama warga sekitar, ia terus berusaha membantu semampunya agar kakek tersebut tidak kelaparan.

“Kita memberikan makanan apa adanya. Apa yang kita makan, itu juga yang kita kasih ke beliau. Begini mi kondisi rumahnya sekarang, sudah tidak layak huni. Dulu pernah ada bantuan dari pemerintah, namun sekarang sudah tidak ada lagi,” ungkap Juwarni dengan nada prihatin.

Kepedulian dari warga sekitar saat ini menjadi satu-satunya sandaran bagi Ladali untuk bertahan hidup.

Meski demikian, bantuan sukarela dari tetangga tentu tidak dapat menjadi solusi permanen atas kondisi memprihatinkan yang ia alami.

Menanggapi situasi warganya, Lurah Wette’e, Hastina, menyampaikan bahwa pihak pemerintah kelurahan sebenarnya tidak tinggal diam.

Ia mengaku telah dua kali mengajukan permohonan bantuan usulan perbaikan rumah untuk Ladali, baik melalui instansi kepemudaan maupun badan amil zakat.

Namun, hingga saat ini, usulan tersebut belum menemui titik terang.

“Pertama, kami usulkan lewat KNPI saat ada program permintaan bedah rumah. Namun, salah satu pengurusnya meminta agar datanya disimpan dulu. Begitu juga ke Baznas, pernah saya sampaikan langsung ke salah satu pengurusnya, tetapi belum ada tanggapan hingga kini,” jelas Hastina.

Kisah hidup Ladali menjadi potret pilu yang masih nyata terjadi di tengah masyarakat.

Di saat banyak orang menikmati masa tua dengan penuh kebahagiaan bersama keluarga, ia justru harus berjuang seorang diri.

Harapan besar kini tertuju kepada pemerintah daerah, para dermawan, serta lembaga-lembaga sosial agar segera turun tangan.

Uluran tangan nyata sangat dinantikan agar Ladali dapat menikmati sisa usianya di tempat bernaung yang lebih aman, terang, dan bermartabat.