BONE, sindosulsel.com – Setelah lima tahun mendampingi Pemerintah Kabupaten Bone, program Land4Lives resmi menutup rangkaian kegiatannya di daerah tersebut.
Penutupan program menjadi momentum untuk memastikan berbagai pengetahuan, praktik baik, serta capaian yang telah dihasilkan tetap berlanjut dalam upaya memperkuat ketahanan masyarakat dan menjaga kesehatan bentang lahan.
Kegiatan bertajuk “Dialog Multipihak Land4Lives: Meneguhkan Komitmen Bersama untuk Lanskap Sehat dan Masyarakat Sejahtera” digelar di Hotel Novena, Watampone, pada Selasa (06/10/2026).
Land4Lives merupakan proyek riset-aksi yang bekerja bersama Pemerintah Kabupaten Bone sejak 2021.
Program tersebut didukung Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada dan dilaksanakan oleh ICRAF yang kini menggunakan nama operasional Landscape Alliance.
Kegiatan penutupan dihadiri Wakil Bupati Bone Andi Akmal Pasluddin bersama 11 pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) yang selama ini menjadi mitra pelaksanaan Land4Lives.
Andi Akmal menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang dilakukan ICRAF bersama berbagai pihak selama lima tahun di Kabupaten Bone.
“Lima tahun kita bersama ICRAF. Kita patut berterima kasih karena Bone menjadi salah satu dari tiga daerah sasaran Land4Lives di Indonesia,” ujar Andi Akmal.
Menurutnya, Land4Lives memberikan kontribusi terutama dalam penguatan perencanaan dan pengelolaan bentang lahan secara berkelanjutan.
Baca Juga : Bupati Bone Hadiri Pesta Panen Mallemmang, 10 Ribu Bibit Ikan Dilepas
Ia mengatakan persoalan ketahanan iklim, ketahanan pangan, serta pengelolaan bentang lahan saat ini tidak lagi menjadi isu lokal semata, tetapi telah menjadi perhatian global dan dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Terima kasih kepada ICRAF Indonesia dan Global Affairs Canada yang telah memberikan pengetahuan dan pendampingan. Ada beberapa desa yang telah menjadi percontohan sehingga lahannya dapat menjadi lebih produktif,” katanya.
Andi Akmal berharap praktik baik yang telah diterapkan di desa-desa dampingan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain agar manfaatnya dirasakan lebih luas.
“Yang terpenting bagaimana Land4Lives ini hadir untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Bentang lahan bisa kita tanami berbagai macam tanaman yang saling mendukung tanpa merusak fungsi lahan dan lingkungan,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan pengelolaan bentang lahan dengan agenda pembangunan daerah, khususnya sektor pangan dan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga : Bupati Bone Dorong Pendampingan UMKM dan Edukasi Pajak Bersama KPP Watampone
Menurutnya, dengan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan serta dukungan berbagai pihak, Bone memiliki peluang memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penghasil pangan.
Dalam kegiatan tersebut, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah petani pelopor serta 11 OPD yang dinilai berkontribusi dalam pelaksanaan program Land4Lives di Kabupaten Bone.
Sementara itu, Country Program Director ICRAF Indonesia Andree Ekadinata menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan daerah aliran sungai (DAS) di Bone.
“Yang menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Bone salah satunya adalah keberlangsungan daerah aliran sungai. Sungai yang kita punya ini adalah urat nadi kita. Pastikan daerah aliran sungai kita sehat,” ujarnya.
Andree menjelaskan, pengelolaan bentang lahan perlu dilakukan dengan tiga prinsip utama, yakni melindungi kawasan yang masih berada dalam kondisi baik, memulihkan lahan yang telah mengalami kerusakan, serta memanfaatkan lahan secara bijaksana.
“Lindungi, pulihkan lahan yang terlanjur rusak dan manfaatkan dengan bijaksana,” katanya.
Sementara itu, Hari Basuki dari Global Affairs Canada berharap berbagai capaian selama lima tahun pelaksanaan Land4Lives di Bone tidak berhenti meski program telah berakhir.
“Kita berharap apa yang telah dicapai selama lima tahun ini bisa dikembangkan dan diperdalam lagi hasilnya sehingga membawa dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Penutupan Land4Lives turut diisi dengan pemaparan capaian program serta dialog panel yang melibatkan Pokja Bentang Lahan, KPH Ulubila, petani pelopor, Dinas Pendidikan, dan Puspaga Bone.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai produk kelompok usaha tani dampingan, seperti gula aren, madu, minyak kelapa murni atau VCO, serta manisan kolang-kaling.
Berakhirnya Land4Lives di Bone diharapkan tidak menjadi akhir dari kolaborasi yang telah dibangun selama lima tahun.
Praktik baik yang telah dihasilkan diharapkan tetap berlanjut dengan menempatkan kelestarian bentang lahan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian yang saling berkaitan dalam pembangunan daerah.












