MAROS, sindosulsel.com — Kabupaten Maros menjadi salah satu wilayah di Sulawesi Selatan yang mengalami periode Hari Tanpa Hujan (HTH) cukup panjang. Monitoring BMKG Dasarian II Agustus 2026 mencatat salah satu wilayah di Maros telah mengalami 81 hari tanpa hujan, sehingga masuk dalam kategori ekstrem.
Data tersebut tercantum dalam Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian II Agustus 2026 yang diterbitkan Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan.
Durasi 81 hari menunjukkan kondisi tanpa hujan telah berlangsung lebih dari dua bulan. Dalam klasifikasi HTH BMKG, periode tanpa hujan selama lebih dari 60 hari masuk kategori ekstrem.
Monitoring BMKG menunjukkan Hari Tanpa Hujan di Sulawesi Selatan memiliki durasi yang berbeda-beda, mulai dari kategori pendek hingga ekstrem. Namun, kondisi HTH pada Dasarian II Agustus 2026 didominasi kategori panjang hingga ekstrem.
Dalam klasifikasi BMKG, HTH selama 21–30 hari masuk kategori panjang, 31–60 hari masuk kategori sangat panjang, sedangkan HTH selama lebih dari 60 hari masuk kategori ekstrem.
Dengan klasifikasi tersebut, catatan 81 hari tanpa hujan di Maros masuk kategori ekstrem berdasarkan durasi HTH.
“Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian II Agustus 2026 di wilayah Sulawesi Selatan didominasi kategori panjang hingga kekeringan ekstrem,” tulis BMKG dalam rilis Monitoring Hari Tanpa Hujan Dasarian II Agustus 2026.
Kondisi HTH yang panjang merupakan salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam memantau perkembangan kondisi kering. Namun, kategori HTH ekstrem tidak berarti seluruh wilayah Maros atau seluruh Sulawesi Selatan mengalami kekeringan ekstrem.
Kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena semakin panjang periode tanpa hujan, semakin besar potensi dampaknya terhadap ketersediaan air dan aktivitas masyarakat, terutama pada wilayah yang bergantung pada curah hujan.
Kondisi kering di Sulawesi Selatan juga perlu mendapat perhatian karena BMKG memprediksi curah hujan masih berada pada kategori rendah pada Dasarian III Agustus 2026 atau periode 21–31 Agustus.
Curah hujan Sulawesi Selatan secara umum diprediksi berada pada kategori rendah dengan kisaran 0–20 milimeter.
BMKG juga memprediksi wilayah bagian selatan Sulawesi Selatan memperoleh curah hujan lebih rendah dibandingkan wilayah bagian utara.
Prediksi tersebut menunjukkan kondisi kering masih berpotensi berlanjut hingga penghujung Agustus. Hal ini perlu menjadi perhatian terutama bagi sektor yang sensitif terhadap ketersediaan air, seperti pertanian.
Kondisi lahan yang semakin kering juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.
Masyarakat diimbau menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, termasuk pembakaran lahan secara sembarangan.
Pemerintah daerah juga perlu mengantisipasi dampak periode kering dengan memperhatikan ketersediaan sumber air serta kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian.












