SINDOSULSEL.COM, Ragam – Membangun sebuah kebiasaan atau habit sering kali diasosiasikan dengan motivasi tinggi dan semangat yang menyala-nyala.
Namun, buku “How to Master Your Habits” karya Felix Siauw justru menyodorkan sudut pandang berbeda: bahwa motivasi bukan syarat utama terbentuknya kebiasaan.

Dalam buku ini, Felix menekankan bahwa yang paling menentukan dalam membentuk kebiasaan adalah dua elemen utama: latihan (practice) dan pengulangan (repetition).
Selama dua hal ini terus dilakukan, kebiasaan akan terbentuk secara alami—bahkan tanpa motivasi sekalipun.
Felix menggambarkan kebiasaan sebagai proses seperti menanam.
Jika seseorang tidak menanam bunga di kebunnya, maka gulma akan tumbuh tanpa diundang.
Artinya, jika tidak sengaja membentuk habit baik, seseorang akan secara otomatis mengembangkan habit buruk.
Lebih lanjut, buku ini menguraikan bagaimana habit sebenarnya adalah bagian dari sistem kerja otak.
Setiap kali kita melakukan sebuah tindakan, otak akan menciptakan koneksi antar sel saraf. Semakin sering tindakan itu dilakukan, semakin kuat dan otomatis kebiasaan itu bekerja.
Dalam jangka panjang, habit menjadi semacam autopilot yang membentuk cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak.
Tak hanya itu, Felix juga membahas pentingnya menemukan tiga pertanyaan kunci: “Apa yang saya inginkan?”, “Mengapa saya harus melakukannya?”, dan “Bagaimana cara saya melakukannya?”.
Tiga pertanyaan ini menjadi gaya tarik (what), gaya dorong (why), dan strategi tindakan (how) yang memperkuat proses pembentukan habit.
Hal menarik lainnya, buku ini juga mengungkap bahwa keberuntungan pun merupakan hasil dari habit yang dilakukan secara konsisten.
Dalam bahasa lain, orang yang terlihat ‘beruntung’ sebenarnya sedang memanen hasil dari proses panjang yang tidak terlihat.
Buku ini dikemas dalam gaya non-bab, langsung menuju poin-poin penting dalam bagian-bagian pendek, lengkap dengan ilustrasi ringan yang memperkuat isi.
Penulis juga menggunakan pendekatan yang logis dan sistematis, menjadikan pembaca mudah memahami sekaligus tergerak untuk langsung bertindak.
Meski terdapat beberapa catatan minor seperti pemilihan warna kertas dan kalimat yang kurang sesuai kaidah EYD, hal ini tidak mengurangi kekuatan isi buku secara keseluruhan.
Bagi siapa pun yang sedang merasa stuck, ingin memulai kebiasaan baru, atau berupaya memperkuat habit positif dalam hidup, buku ini bisa menjadi panduan yang relevan, ringan, dan langsung pada inti permasalahan.












