News

Mengenang Perjuangan Raja Tallo ke-VII Mengislamkan Kerajaan hingga Indonesia Timur

×

Mengenang Perjuangan Raja Tallo ke-VII Mengislamkan Kerajaan hingga Indonesia Timur

Sebarkan artikel ini

Trah GTS Gelar Haul Karaeng Matoayya

Mengenang Perjuangan Raja Tallo ke-VII Mengislamkan Kerajaan hingga Indonesia Timur

SINDOSULSEL.COM, Makassar — Lembaga Trah Gowa, Tallo, Sanrobone (GTS) yang menghimpun sejumlah keturunan keluarga tiga kerajaan besar di Sulsel kembali menunjukkan komitmennya menjaga, melestarikan dan mengenang para leluhurnya dengan menggelar Haul Karaeng MatoayyaMatoayya.

Selain Haul Karaeng Matoayya yang merupakan Raja Tallo ke-VII, Trah GTS juga menggelar dialog keagamaan dan budaya yang dihadiri segenap keluarga keturunan tiga kerajaan, Gowa, Tallo dan Sanrobone, di Hotel Swiss Bell In Makassar, Minggu (22/9/2024).

Dalam kesempatan itu, terungkap bahwa ratusan tahun lalu dua raja besar kesultanan Gowa Tallo telah mengislamkan Sulsel dan Indonesia Timur.

Anrong Guru Lau Sanrobone, Suwadi Idris Amir yang juga dikenal dengan nama Karaeng Mattawang mengemukakan, setidaknya kurang lebih 400 tahun lalu, dua raja besar kesultanan Gowa Tallo mengislamkan Sulsel dan Indonesia Timur.

“Raja-raja ini resmi menjadikan Islam sebagai agama masyarakat, agama kerajaan yang ada saat itu,” kata Karaeng Mattawang.

Dia menyebutkan, kegiatan Haul ini seharusnya menjadi perhatian seluruh lembaga adat, pemerintah provinsi, kota dan Kabupaten Gowa untuk mengenang sejarah yang sangat penting dan peradaban masa lalu.

Masuknya Islam saat itu lanjutnya dipaksakan baik itu secara diplomasi dan militer dan saat itu diterima dengan sangat baik oleh masyarakat dan mayoritas kerajaan. Walaupun saat itu masih ada yang menolak seperti Bone dan Soppeng hingga akhirnya diperangi untuk masuk islam.

“Karaeng Matoayya ini memiliki jasa yang sangat luar biasa karena berhasil menyatukan kerajaan di Indonesia Timur,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, Republik Indonesia ini memiliki wilayah kekuasaan sampai Papua berkat perjuangan Karaeng Matoayya. Dia lah yang menyatukan kerajaan-kerajaan di Indonesia Timur, sehingga wilayah kekuasaan Indonesia ini bisa luas sampai sekarang.

“Saya pikir dengan jasa-jasa besar Beliau, harusnya ini bisa menjadi perhatian pemerintah provinsi, Kota Makassar dan Kabupaten Gowa dan berinisiatif melanjutkan apa yang kami lakukan tahun ini, agar kelak bisa menjadi agenda tahunan,” tuturnya.

Berkat perjuangan Karaeng Matoayya kita dan keluarga bisa mengenal islam sebagai agama rahmatan lilamin.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Supratman juga tampil sebagai pembicara dalam dialog ini. Narasumber lainnya adalah Nasruddin Krg Situju dan Andi Anri.

Menurut Supratman, apa yang dilakukan komunitas Trah GTS dengan membedah Islamisasi di Sulsel sangat mencerahkan dan revolusioner.

“Karena diinisiasi oleh masyarakat yang ternyata memberikan banyak informasi baru yang inovatif dan sangat penting untuk diketahui,” tandasnya sela-sela Haul Karaeng Matoayya. (*)