Oleh: Kelompok 1 Konjungsi
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Muhammadiyah Bone
BULUKUMBA, sindosulsel.com – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Bone (UNIM Bone) telah melaksanakan penelitian lapangan di Kawasan Adat Kajang, Kabupaten Bulukumba, pada Sabtu (04/07/2026) hingga Minggu (05/07/2026).
Kegiatan ini memberikan gambaran nyata mengenai kuatnya kearifan lokal yang masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat adat setempat hingga saat ini.
Pengumpulan data penelitian tersebut dilakukan melalui observasi langsung serta wawancara dengan pemandu Kawasan Adat Kajang, Yusuf.
Berdasarkan hasil pengamatan, masyarakat suku Kajang terbukti masih sangat memegang teguh berbagai tradisi warisan leluhur.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap aturan adat yang berlaku, setiap pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki sebelum memasuki kawasan adat.
Selain itu, masyarakat setempat juga masih aktif menggunakan bahasa Konjo dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan Pasanre Kajang sebagai pedoman utama yang memuat pesan serta nilai-nilai kehidupan.
Baca Juga : Presiden Bakal Pangkas 750 BUMN Demi Efisiensi Anggaran Riset Kampus
Yusuf dalam sesi wawancara menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat Kajang berlandaskan pada tiga sistem hukum, yakni hukum adat, hukum agama, dan hukum negara.
Ketiga sistem hukum tersebut mampu berjalan secara berdampingan sekaligus menjadi dasar penting dalam menjaga ketertiban, keamanan, serta keharmonisan di tengah kehidupan masyarakat.
Dalam penelitian lapangan ini, ditemukan pula bahwa berbagai ragam kesenian tradisional seperti Tope Leleng, Awaru, Akelong Jaga, Apasing, dan Akelong Basing terus dilestarikan.
Kesenian tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Kajang.
Baca Juga : Refleksi 15 Tahun Perjalanan, AMPUH Unhas Kokohkan Peran Cetak Ahli Hukum Berintegritas
Di samping itu, semangat gotong royong juga tetap tumbuh subur dan menjadi budaya yang kuat dalam setiap aktivitas sosial warga.
Tidak hanya pada aspek seni dan budaya, kepedulian tinggi masyarakat Kajang terhadap kelestarian hutan adat juga menjadi salah satu temuan penting.
Hutan dijaga dengan sangat ketat melalui aturan adat karena memiliki fungsi vital sebagai sumber mata air dan penopang kehidupan.
Lebih dari itu, filosofi pakaian hitam dan putih yang dikenakan warga melambangkan kejujuran dan kesucian sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Melalui kegiatan penelitian lapangan ini, para mahasiswa mendapatkan pengalaman secara nyata dalam memahami keterkaitan erat antara bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakat adat.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi pengembangan sistem pembelajaran berbasis kearifan lokal, sekaligus turut serta mendorong upaya pelestarian budaya daerah sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia.












