RELIGI, sindosulsel.com – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa kekuatan utama dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU) terletak pada karakter moderatnya yang diyakini mampu menjembatani peradaban antara Timur dan Barat.
Pernyataan penting tersebut disampaikannya dalam momentum acara Halal Bihalal PB IKA PMII di Jakarta pada Senin (20/04/2026), yang sekaligus menjadi ajang konsolidasi strategis para alumni dalam membaca arah kepemimpinan NU ke depan.
Menurut Menag, hubungan historis yang erat antara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan NU menjadi landasan kuat bagi para alumni untuk turut berkontribusi penuh dalam mempersiapkan regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
“Wajar jika Alumni PMII membahas dan mempersiapkan kepemimpinan NU ke depan, karena keduanya memiliki hubungan historis yang sangat dekat. NU dikenal sebagai paham yang tidak kekiri atau kekanan, tapi di tengah-tengah. Pemahaman wasathiyah inilah yang membuat NU diterima di Timur dan di Barat,” ujar Nasaruddin Umar.
Pernyataan tersebut semakin menegaskan posisi PMII sebagai salah satu rahim kaderisasi strategis bagi NU.
Secara historis maupun ideologis, PMII tidak sekadar menjadi basis reproduksi kepemimpinan, melainkan juga bertindak sebagai ruang dialektika intelektual guna menjaga kesinambungan nilai-nilai keislaman moderat yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam perspektif yang lebih luas, wawasan kepemimpinan yang dibawa oleh Nasaruddin Umar dinilai mencerminkan model intelektualitas yang mengakar sekaligus progresif.
Di era kontemporer ini, NU dituntut untuk mampu mengintegrasikan kapasitas keilmuan, pengalaman birokrasi, serta kedalaman spiritual dalam satu kesatuan kepemimpinan yang adaptif terhadap pesatnya perubahan zaman.
Salah satu capaian konkret yang menjadi bukti orientasi global tersebut adalah pengembangan program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI).
Program strategis ini tidak hanya berfokus pada pencetakan ulama dengan basis keilmuan yang kuat, tetapi juga berwawasan internasional berkat kemitraan dengan berbagai institusi global terkemuka, seperti Universitas Al-Azhar, University of California Riverside (UCR), dan Hartford International University (HIU).
Langkah progresif tersebut menjadi bukti nyata bahwa narasi Islam moderat khas Indonesia tidak hanya relevan dalam konteks domestik, melainkan juga memiliki daya tawar yang kuat di panggung global.
Melalui corak kepemimpinan yang inklusif dan adaptif, NU dinilai mampu tampil konsisten sebagai representasi Islam rahmatan lil ‘alamin yang dapat diterima oleh lintas peradaban di kancah global.
Sementara itu, agenda Halal Bihalal PB IKA PMII yang turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan jajaran menteri kabinet tersebut menjadi ruang konsolidasi yang krusial untuk memperkuat sinergi antaralumni.
Forum ini membuktikan diri bukan sekadar ajang seremonial belaka, melainkan sebuah momentum strategis untuk membaca dan memetakan arah kepemimpinan NU ke depan di tengah pusaran dinamika perpolitikan serta globalisasi yang semakin kompleks.
Berbekal fondasi wasathiyah yang kokoh, jejaring kader yang amat luas, serta dukungan kepemimpinan intelektual yang progresif, NU dinilai memiliki modal sosial dan kultural yang melimpah.
Modal tersebut menjadi kunci bagi organisasi beringin ini untuk terus memainkan peran strategisnya sebagai pembawa pesan damai, baik di tingkat nasional maupun panggung dunia.












