OPINIPolitik

OPINI : PSU Palopo dan Tanda Kehancuran Moral Kota Idaman

×

OPINI : PSU Palopo dan Tanda Kehancuran Moral Kota Idaman

Sebarkan artikel ini
OPINI : PSU Palopo dan Tanda Kehancuran Moral Kota Idaman
FOTO Saparuddin Santa. Direktur Eksekutif Visi Indonesia Consulting

Oleh : Saparuddin Santa
Direktur Eksekutif Visi Indonesia Consulting

*Sebuah Refleksi : Menagih Tanggungjawab Moral Kaum Intelektual Wija To Luwu*
“ Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun, anda harus mengeluarkan banyak uang” – Will Rogers, Aktor-Kritikus Politik Amerika Abad- 19

Saya (penulis) termasuk salah seorang yang meragukan, bahwa Kota Palopo akan menemukan jati dirinya sebagai salah satu kota di Sulawesi Selatan yang akan menuju Kota Idaman.

Jika merujuk pada pilkada sebelumnya pada bulan November 2024 tahun lalu, agak sulit membayangkan masa depan Kota Palopo akan mengarah pada kemajuan demokrasi dan kemajuan pembangunan, setidaknya dalam lima tahun kedepan.

Seperti diketahui, Kota Palopo akan melakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) 24 Mei 2024, dan diikuti empat pasang calon, Paslon nomor urut 01 Putri Dakka – Haidir Basir, Paslon No. 02 Farid BKasim Judas – Nurhaeni, Paslon No.03 Rahmat Masri Bandaso – Andi Tenri Karta, dan Paslon No urut 04 Naili Trisal – Akhmad Syarifuddin.

Dalam sebuah survei yang penulis dan tim lakukan menjelang pemungutan suara pada Pilkada 2024 lalu, tepatnya satu bulan sebelum pemilihan, kami mendapati situasi yang hampir sama dengan di hampir seluruh wilayah di Sulawesi Selatan ( bisa jadi juga berlaku diseluruh Indonesia), bahwa mayoritasmasyarakat menganggap bahwa Pilkada adalah kesempatan untuk “menguji” kapasitas logistik calon.

Fakta lapangan yang sudah menjadi rahasia umum, dimana kecenderungan masyarakat memilih karena faktor logistik, khususnya di Kota Palopo, sangat tinggi. Dari 400 sampel, kami mendapati 76,7% warga Palopo menganggap bahwa, menerima sesuatu ( berupa uang ) dari calon sebelum memilih, adalah hal wajar. Selebihnya, 21,2% yang memilih karena alasan kapasitas kepemimpinan calon, kekerabatan dan juga kedekatan dengan calon ( sebagai alasan ), dan 2,1% memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu.

Saya menduga kuat, bahwa situasi menjelang Pemungutan Suara Ulang ( PSU) Kota Palopo yang akan berlangsung pada Tanggal 24 Mei 2025 nanti, situasinya tidak akan jauh berbeda. Bisa jadi, mungkin, pragmatisme pemilih, akan lebih tinggi.

Apa hubungannya dengan Kota Palopo sebagai Kota Idaman?

Saat tulisan ini di buat, penulis bersama tim di lembaga survei Visi Indonesia Consulting masih melakukan survei kecil berupa pemetaan perilaku pemilih masyarakat Kota Palopo, termasuk melakukan Indepth Interview ( wawancara mendalam ) dengan tokoh masyarakat, tokoh partai, tokoh adat, tokohpemuda dan juga masyarakat umum.

Salah satu pertanyaan kunci yang kami ajukan ke responden adalah “Menurut anda, dari 4 ( empat ) pasangan calon yang maju, pasangan calon mana yang akan memenangkan PSU tanggal 24 Mei nanti?” dan betapa kami terkejut dengan jawaban dari responden yang kami ambil sebagai sampel.

Dari 200 lebih responden yang sudah tim kami temui, semua mengatakan bahwa yang akan memenangkan PSU 24 Mei nanti adalah “yang paling banyak uangnya”.

Saya lalu teringat kata-kata William Penn Adair Rogers (1879-1935), seorang aktor, pelawak sekaligus komentator dan kritikus politik terkenal Amerika di awal abad ke-19.

Will Rogers adalah pembicara publik nomor satu dan paling populer, bukan hanya di Amerika, tapi juga diseluruh dunia era itu. Yang membuat Will Rogers populer ketika itu adalah pernyataan-pernyataan politiknya yang menyindir pemerintah, dan sikap apatis masyarakat, dalam proses pemilihan para anggota kongres, dan tentu saja juga, pemilihan presiden.

Salah satu ungkapannya yang paling terkenal di dunia politik adalah “ Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun, anda harus mengeluarkan banyak uang”.

Ungkapan inilah, salah satu yang kemudian yang menginspirasi masyarakat Amerika dan negara-negara Eropa, terutama para tokoh politik yang baik dan elit masyarakat yang berpendidikan terus menyuarakan gerakan perubahan dalam sistem politik dan seleksi kepemimpinanannya agar menjadi lebih berkualitas, dan akhirnya kemudian membawa Amerika dan negera-negara maju di Eropa menjadi seperti yang kita lihat hari ini.

Karena kemajuan sebuah negara/daerah sangat tergantung pada proses seleksi awal pemimpinnya, yang didukung oleh kaum intelektual dan kesadaran masyarakatnya untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Apa yang terjadi di Amerika 120-150an tahun yang lalu, sesungguhnya sedang terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia selama 3 kali Pemilu dan banyak Pilkada yang penulis ikut aktif melakukan survei perilaku pemilih. Ini artinya, perilaku politik di negara kita adalah perilaku politik negara maju 120an tahun yang lalu. Bahwa sesungguhnya, moral demokrasi di negara kita tertinggal 100 tahun lebih dari negara-negara maju di dunia. Dan ironisnya, ini berbanding lurus dengan ketertinggalan sumber daya moral para pelaku politik kita.

Kondisi ini diperparah dengan diamnya kaum intelektual untuk terus menyuarakan dan menggerakkan masyarakat untuk melawan praktik-praktik seperti itu.

Khusus untuk Kota Palopo yang memiliki branding sebagai Kota Idaman, yang menurut penulis bisa menjadi kota impian, penting kaum intelektual untuk duduk bersama dan bergerak memikirkan masa depan Kota Palopo.

Sejatinya, Kota Palopo bisa menjadi kota pusat pendidikan, pusat jasa dan pusat niaga terbesar di Pulau Sulawesi, karena terkoneksi langsung dengan 3 (tiga) provinsi dengan pusat sumber daya alam tambang yang sangat besar, Sulawesi Selatan (Luwu,Luwu Timur) Sulawesi Tengah (Morowali), Sulawesi Tenggara (Konawe, Bombana), yang bisa langsung terhubung dengan daratan, dan juga provinsi-provinsi di wilayah timur Indonesia yang bisa terkoneksi melalui jalur laut.

Pemimpin Kota Palopo kedepan, harusnya bisa menangkap itu sebagai peluang untuk menjadikan Palopo sebagai Kota Modern yang maju dan sejahtera.

Bagi penulis, Kota Palopo adalah mutiara katulistiwa yang tidak ada duanya di Pulau Sulawesi. Dan PSU Tanggal 24 Mei 2025 nanti adalah penentu, apakah masyarakat Kota Palopo ingin membawa Kota Palopo ke arah Kota Idaman atau justru sebaliknya.

Jika di pimpin oleh pemimpin yang tepat dan terpilih karena kesadaran masyarakatnya akan masa depan Kota Palopo, serta didukung oleh kebijakan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, maka bukan tidak mungkin, Kota Palopo dalam 15 sampai 25 tahun kedepan, dengan melihat posisi strategis secara geografis dan ketersediaan sumber daya alam yang sangat melimpah seperti yang tergambar diatas, tidak mustahil Kota Palopo bisa meniru kemajuan Singapura.

Saat membayangkan Kota Palopo sampai pada masa keemasan itu, lalu membandingkannya dengan proses demokrasi politik yang sedang berlangsung hari-hari belakangan ini sampai dengan 24 Mei mendatang, seorang teman berkata kepada saya, “Bangun, hari sudah senja, sebentar lagi gelap”. Tabe.