SIDRAP, sindosulsel.com – Produktivitas padi di Desa Botto, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), menunjukkan hasil menjanjikan. Hasil ubinan menjelang panen mencatat potensi produksi mencapai 9,5 ton gabah per hektare.
Capaian tersebut menjadi salah satu modal Pemerintah Kabupaten Sidrap untuk mendorong Desa Botto sebagai sentra pertanian produktif sekaligus menerapkan program Intensifikasi Pertanaman (IP) 300 atau tiga kali tanam dalam setahun.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Panen Raya Musim Tanam (MT) II sekaligus persiapan olah lahan menuju IP300 di Desa Botto pada Jumat (07/08/2026).
Syaharuddin mengatakan sektor pertanian akan terus diperkuat melalui penyediaan air, modernisasi alat pertanian, perbaikan infrastruktur hingga penguatan kelembagaan kelompok tani.
Salah satu program yang dipersiapkan yakni bantuan sumur bor listrik bagi kelompok tani untuk mengatasi keterbatasan air, khususnya saat musim kemarau.
Setiap kelompok tani direncanakan memperoleh tiga unit bor listrik sehingga lahan pertanian tetap dapat diairi dan berproduksi ketika pasokan air berkurang.
“Ke depan tidak ada lagi sawah yang kekurangan air. Pertanian kita akan semakin modern. Petani cukup mengoperasikan mesin menggunakan handphone dengan sistem voucher,” kata Syaharuddin.
Pemkab Sidrap juga memberikan perhatian terhadap program cetak sawah. Syaharuddin menjelaskan, lahan cetak sawah seluas 78 hektare yang dimulai pada 2025 belum dapat ditanami secara optimal karena keterbatasan sumber air.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, kawasan itu akan dilengkapi sumur bor serta jaringan listrik sepanjang sekitar satu kilometer.
Program cetak sawah kemudian dilanjutkan pada 2026 dengan luas sekitar 79 hektare di wilayah Toddang Asa.
Selain membuka lahan baru, pemerintah juga menjalankan program rehabilitasi sawah. Petani diminta melaporkan lahan pertanian yang sudah tidak difungsikan agar dapat didata, direhabilitasi, dan kembali dimanfaatkan untuk produksi pangan.
Upaya menuju IP300 turut diperkuat dengan bantuan alat mesin pertanian. Sebanyak empat kelompok tani di Desa Botto menerima bantuan rotavator melalui program PM-AAS untuk mempercepat proses pengolahan lahan setelah panen.
Desa Botto juga tercatat menjadi salah satu wilayah yang banyak menerima bantuan sektor pertanian. Selama setahun terakhir, sebanyak 28 kelompok tani memperoleh berbagai program, termasuk 14 kelompok penerima optimalisasi lahan (oplah) nonrawa.
Syaharuddin turut mendorong penataan kelembagaan petani agar pelayanan dan pengelolaan bantuan lebih efektif.
Dari 27 kelompok tani yang ada di Desa Botto, sebanyak 12 kelompok dinilai memenuhi syarat untuk dimekarkan karena memiliki wilayah kelola lebih dari 25 hektare. Bahkan, terdapat kelompok yang mengelola lahan hingga 81 hektare.
Menurut Syaharuddin, penguatan sektor pertanian harus berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur dasar.
Ia menyebut saat mulai menjabat terdapat sekitar 955 kilometer jalan dalam kondisi rusak. Dari jumlah tersebut, sekitar 372 kilometer disebut telah ditangani.
“Ketika saya mulai menjabat, terdapat sekitar 955 kilometer jalan dalam kondisi rusak. Alhamdulillah, hingga saat ini sudah sekitar 372 kilometer berhasil diperbaiki. Jalan yang baik akan memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pembangunan jalan, lanjutnya, terus dilakukan di sejumlah wilayah Kecamatan Pitu Riase, antara lain Bila Riase, Barukku, Lombo, Compong, Dengenge-Dengeng hingga Buntu Buangin.
Syaharuddin juga menyampaikan Kabupaten Sidrap memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat sebagai daerah terbaik di Pulau Sulawesi dengan hadiah sebesar Rp3 miliar.
Anggaran tersebut disebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Pallae dan Bola Bulu, Kecamatan Pitu Riase.
Selain pembangunan fisik, Pemkab Sidrap mendorong pengembangan desa tematik agar setiap desa mempunyai potensi dan karakter unggulan yang dapat dikembangkan menjadi sumber peningkatan ekonomi masyarakat.
Syaharuddin berharap kombinasi peningkatan produktivitas, ketersediaan air, modernisasi alat pertanian, perbaikan jalan serta penguatan kelompok tani dapat menjadikan Pitu Riase sebagai salah satu kawasan produksi pangan utama Sidrap.
“Pertanian harus menjadi jalan utama meningkatkan kesejahteraan warga Sidrap. Dengan infrastruktur yang baik, air yang tersedia, alat pertanian modern, dan kelembagaan petani yang kuat, saya optimistis Pitu Riase akan semakin maju dan menjadi lumbung pangan yang lebih produktif,” pungkasnya.












