SINDOSULSEL.COM, Palopo – Seorang pria bernama Dudes Harianto (33) ditemukan tewas dalam kondisi tergantung di samping rumahnya, di Jl. Tandipau Lorong 3, Kelurahan Tomarundung, Kecamatan Wara, Kota Palopo, pada Jumat pagi (4/4/2025).
Pihak kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), sementara keluarga korban menolak dilakukan otopsi.
“Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh Yacob Balapadang (50), seorang karyawan swasta yang tinggal di sekitar lokasi,” ujar Kasi Humas Polres Palopo, AKP Supriadi.
Kasi Humas Polres Palopo mejelaskan, sekitar pukul 06.30 WITA, saat memberi makan ternaknya di belakang rumah, Yacob mendengar suara ayam berisik dari arah rumah korban.
“Saat mendekati sumber suara, ia terkejut melihat seseorang berpakaian putih tergantung dengan tali,” jelas AKP Supariadi.
Yacob lalu memberitahu tetangganya, Alling, yang meneruskan informasi tersebut kepada warga lainnya.
Kejadian ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian sekitar pukul 07.55 WITA.
Mendapat laporan tersebut, tim kepolisian yang dipimpin oleh Ipda Hewith Manurung, bersama Kanit 3 SPKT serta tim piket Reskrim dan Intel, segera mendatangi lokasi kejadian.
Mereka mengamankan area dengan memasang garis polisi, serta melibatkan Tim Inafis Satreskrim Polres Palopo untuk melakukan pemeriksaan di TKP.
“Setelah pemeriksaan awal, pihak keluarga menyatakan tidak keberatan atas kejadian tersebut dan menganggapnya sebagai takdir. Mereka secara resmi menolak dilakukan otopsi terhadap jasad Dudes Harianto,” ujar AKP Supariadi.
Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi pada Rabu (21/2/2025), ketika seorang pria bernama Sawanto (30) ditemukan tewas tergantung di Kompleks Perumnas, Kelurahan Rampoang, Kecamatan Bara.
Rentetan peristiwa ini menambah daftar panjang kasus bunuh diri di Kota Palopo dalam beberapa tahun terakhir.
Bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:
-
Gangguan mental: Lebih dari 90% individu yang melakukan bunuh diri memiliki gangguan seperti depresi, gangguan bipolar, atau skizofrenia.
-
Masalah sosial dan ekonomi: Tekanan finansial, pengangguran, dan kesulitan hidup sering menjadi pemicu.
-
Penyalahgunaan zat: Alkohol dan narkoba dapat memicu tindakan impulsif.
-
Trauma dan stres berat: Pengalaman buruk seperti kekerasan, pelecehan, atau kehilangan orang tercinta bisa memicu keputusan tragis.
Untuk menekan angka bunuh diri, diperlukan upaya kolektif, seperti:
-
Peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental, agar individu yang membutuhkan bisa mendapatkan bantuan tepat waktu.
-
Edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental dan penghapusan stigma.
-
Penguatan dukungan sosial, agar orang-orang yang berisiko merasa tidak sendirian.
Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap tanda-tanda bunuh diri dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika dibutuhkan.












