SINDOSULSEL.COM, Palopo – Dalam momentum peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) yang ke 757 dan Hari Perlawanan Luwu (HPL) ke 79, sejumlah kesepakatan penting telah tertuang untuk kemajuan Tana Luwu.
Pertemuan yang melibatkan para pemimpin daerah, tokoh adat, dan masyarakat ini melahirkan beberapa poin strategis untuk masa depan daerah dan pelestarian budaya.
Point kesepakatan tersebut dibacakan oleh Makkole Baebunta. Salah satu poin utama adalah kesepakatan bersama untuk mendukung pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Luwu Tengah dan Provinsi Luwu.
Hal ini dinilai penting sebagai langkah memperkuat kesejahteraan masyarakat serta mempercepat pembangunan di wilayah tersebut. Selain itu, pemerintah kabupaten dan kota di Tana Luwu berkomitmen untuk berkontribusi dalam peningkatan kapasitas serta pelestarian Istana Kedatuan Luwu sebagai simbol sejarah dan budaya.
Baca juga : Pj Gubernur dan Ketua PKK Sulsel Disambut Adat Meriah di Peringatan Hari Jadi Luwu ke-757
Dalam bidang pendidikan, disepakati pula penyusunan buku sejarah Luwu yang akan menjadi bagian dari muatan lokal di sekolah-sekolah di Tana Luwu. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Sementara itu, pesan dan arahan dari Datu Luwu, La Maradang Mackulau Opu To Bau, yang disampaikan, Opu Pabbicara Kedatuan Luwu, Muchtar Luthfi Andi Mutty, menyampaikan beberapa poin penting dalam sambutannya kepada seluruh masyarakat Luwu khususnya kepala daerah terpilih.
Ia menyatakan, sebelum tahun 1906, wilayah Kerajaan Luwu mencakup Kolaka, Poso, Toraja, dan sekitarnya. Namun, setelah kedatangan kolonial Belanda, wilayah tersebut terpecah menjadi beberapa daerah administrasi.
Dalam sambutannya, Opu Pabbicara mewakili Datu Luwu yang sedang sakit, menekankan pentingnya nilai siri’ (rasa malu) dan pacce (belas kasih) sebagai pedoman bagi para pemimpin dan masyarakat.
“Siri adalah harga diri yang menjadi dasar tanggung jawab. Jika seorang pemimpin lari dari tanggung jawab, maka ia akan kehilangan kehormatan,” tegasnya.
Baca juga : Aksi Mahasiswa Tuntut Pemekaran Provinsi Luwu Raya, Jalan Trans Sulawesi Diblokir
Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin yang baik harus memiliki pacce, yakni rasa empati dan belas kasih terhadap masyarakat. “Pemimpin tanpa belas kasih tidak layak disebut pemimpin. Kebijakan yang dibuat harus berpihak kepada kebaikan dan kepentingan orang banyak,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Opu Pabbicara juga mengingatkan masyarakat untuk terus memperjuangkan terbentuknya Provinsi Tana Luwu.
Ia mengenang bagaimana cita-cita ini telah digaungkan sejak tahun 1966 saat ia masih duduk di bangku kelas 4 SD. “Provinsi Tana Luwu harus tetap terpatri dalam sanubari setiap masyarakat dan pemerintah di Tana Luwu,” pesannya.
Semangat perjuangan Datu Andi Djemma sebagai salah seorang tokoh penting di Tana Luwu juga menjadi teladan bagi para pemimpin saat ini.
Datu Andi Djemma, yang memilih bergabung dengan NKRI demi persatuan bangsa, menjadi inspirasi bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari kemewahan, tetapi dari pengabdian untuk rakyat.
Peringatan HJL dan HPL yang semula direncanakan di Kolaka Utara akhirnya dilaksanakan di wilayah Kedatuan Luwu karena satu dan lain hal. Namun, acara ini tetap berlangsung khidmat, mempertegas tekad bersama untuk menjaga sejarah, budaya, dan semangat perjuangan Tana Luwu.
Baca juga berita di Google News












