SIDRAP, sindosulsel.com – Musim kemarau tidak menghentikan aktivitas pertanian Muhammad Yunus, petani asal Desa Padangloang Alau, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Dari lahan seluas 25 are, ia berhasil memanen padi dengan produksi yang disebut mencapai 2,52 ton gabah.
Muhammad Yunus, yang merupakan anggota Kelompok Tani Masumpuloloe, mengaku bersyukur atas hasil yang diperoleh di tengah cuaca yang kurang bersahabat.
“Alhamdulillah, walaupun musim kemarau dan air cukup sulit dipertahankan, kami masih bisa panen. Dari lahan 25 are ini dapat sekitar 20 karung, kalau ditimbang totalnya 2.520 kilogram,” ungkap Yunus.
Baca Juga : Listrik Masuk Sawah Jaga Produktivitas Petani Sidrap di Tengah Ancaman Kemarau
Hasil panen tersebut diperoleh di tengah tantangan berat bagi petani dalam menjaga ketersediaan air dan produktivitas lahan.
Dengan harga gabah yang saat ini berkisar di angka Rp7.700 per kilogram, nilai kotor hasil panennya diperkirakan mencapai sekitar Rp19,4 juta.
“Kalau hitungan kasarnya dengan harga Rp7.700 per kilo, kotornya memang dapat sekitar Rp19 jutaan. Tapi itu belum dipotong modal untuk beli benih, pupuk, biaya pengolahan lahan, sampai upah tenaga kerja selama masa tanam hingga panen,” jelasnya menambahkan.
Keberhasilan panen di tengah musim kemarau ini menjadi salah satu gambaran aktivitas pertanian yang masih terus berjalan di Sidrap, yang dikenal sebagai salah satu daerah sentra produksi padi di Sulawesi Selatan.
Baca Juga : Rutan Sidrap Gelar Panen Raya Padi, Dorong Kemandirian Warga Binaan
Bagi Muhammad Yunus dan petani lainnya, kondisi cuaca menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan pengelolaan lahan dan pemeliharaan tanaman secara konsisten.
Aktivitas petani di desa tersebut juga menjadi bagian krusial dari upaya mempertahankan produksi pangan daerah di tengah ancaman perubahan kondisi cuaca yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi sektor pertanian secara luas.












