SINDOSULSEL.COM, Jakarta – Polda Metro Jaya menangkap seorang pria berinisial RAP, yang dijuluki “Profesor R”, atas dugaan menyebarkan tutorial pembuatan bom molotov serta berperan sebagai koordinator kurir distribusi bom tersebut dalam aksi demonstrasi yang berujung ricuh di akhir Agustus 2025.
Pada konferensi pers di Mapolda Metro Jaya (2 September), Kabid Humas Kombes Ade Ary Syam Indradi menyampaikan bahwa RAP menyebarkan video tutorial pembuatan molotov, termasuk bahan dan komposisinya. Ia juga diduga mengatur titik pengambilan bom di lapangan.
Kanit 2 Subdit Kamneg Ditreskrimum, Kompol Gilang Prasetya, menambahkan bahwa penyelidikan via forensik digital menemukan bahwa RAP juga berfungsi sebagai koordinator logistik pelengkap bom di titik aksi.
Kelompok pelaku dideteksi aktif di sejumlah grup WhatsApp, penyidik masih mengidentifikasi ribuan grup serupa yang diperiksa lebih lanjut secara forensik.
Baca Juga : Mabes Polri Rilis Data Demo Ricuh: 3.195 Orang Ditangkap
RAP telah ditetapkan sebagai tersangka dan dikenai Pasal 160 KUHP; atau Pasal 45A ayat (3) juncto Pasal 28 ayat (3) UU ITE; atau Pasal 76H juncto Pasal 15 junto Pasal 87 UU Perlindungan Anak.
Polda Metro Jaya juga telah menetapkan lima tersangka terkait penghasutan, termasuk Direktur Lokataru Foundation Delpedro Marhaen Rismansyah, serta telah mengamankan lebih dari 1.000 orang yang terlibat dalam kerusuhan sekitar 300 di antaranya adalah anak-anak .
Pada 3 September 2025 (Rabu), demo berlangsung di berbagai kota. Di Jakarta, aksi dilancarkan oleh DPP GMNI di depan Gedung DPR/MPR, Forum Ketua DPW Partai Berkarya di Pos Polisi Merdeka Barat (Gambir), serta Aliansi Perempuan Indonesia (API) di Gerbang Utara DPR dengan tema “Perempuan Melawan Kekerasan Negara”.
Komnas HAM mencatat sedikitnya 10 orang tewas akibat demonstrasi di berbagai kota hingga 2 September 2025. Di Makassar, tercatat 3 orang tewas saat massa membakar gedung DPRD regional, sebagian korban diduga terjebak di dalam bangunan saat kebakaran.
Pemerintah secara resmi menurunkan tunjangan anggota DPR dan menangguhkan perjalanan dinas ke luar negeri sebagai respons terhadap protes nasional.
Baca Juga : Prabowo Tegaskan Keseriusan Pemerintah Bahas Perampasan Aset
Namun, meskipun ada konsesi ini, mahasiswa tetap melanjutkan aksi sambil menuntut reformasi sistemik terhadap oligarki politik dan ketidaksetaraan ekonomi.
Pemerintah juga menekankan hak kebebasan pers dan membentuk tim pemantau untuk transparansi dalam penegakan hukum selama demo.
Penangkapan “Profesor R” menunjukkan bahwa demonstrasi tidak hanya bersifat kritik terhadap kebijakan, tetapi melibatkan pengorganisasian kekerasan yang tertata dari tutorial pembuatan bom molotov hingga distribusi strategis.
Sementara itu, pemerintah berupaya meredam konflik lewat kebijakan, namun demo berlanjut dengan tuntutan yang lebih dalam. Data korban jiwa dan pelibatan anak dalam kerusuhan membuka urgensi perlindungan lebih serius.
Dari KPAI sendiri, mengecam pelibatan anak-anak dalam aksi anarkis dan menyerukan agar para provokator ditindak tegas. Undang-undang menjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat anak, namun dengan perlindungan yang seharusnya.












