LUWU, sindosulsel.com – SMPN 2 Bua, Kabupaten Luwu, mulai menerapkan asesmen berbasis digital dalam pelaksanaan Sumatif Tengah Semester (STS) Ganjil Tahun Pelajaran 2026/2027, Senin (28/09/2026).
Pihak sekolah menyebut pelaksanaan sumatif digital tersebut diikuti 532 siswa dari kelas VII, VIII, dan IX.
Sistem ini menjadi bagian dari upaya sekolah memperluas pemanfaatan teknologi dalam proses evaluasi pembelajaran.
Kepala SMPN 2 Bua Badewi Said mengatakan penerapan sistem digital sebelumnya telah melalui beberapa kali uji coba, meski masih terbatas pada sejumlah kelas.
“Sudah beberapa kali kita lakukan uji coba, tetapi hanya beberapa kelas. Sekarang kita sudah menerapkannya dengan melibatkan sebanyak 532 siswa,” ujar Badewi.
Dalam rincian yang disampaikan, peserta terdiri atas 170 siswa kelas IX, 166 siswa kelas VIII, dan 188 siswa kelas VII.
Namun, rincian tersebut jika dijumlahkan mencapai 524 siswa, berbeda delapan orang dari total 532 siswa yang disebut pihak sekolah.
Perbedaan data itu masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Baca Juga : Kemenag Batasi HP di Madrasah dan Pesantren
Badewi mengatakan penerapan asesmen digital bukan semata mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk mempermudah pelaksanaan evaluasi serta pengolahan hasil belajar siswa.
Salah satu fitur yang digunakan dalam aplikasi adalah pembatasan akses ketika siswa sedang mengerjakan soal.
Menurut pihak sekolah, siswa tidak dapat dengan mudah meninggalkan aplikasi untuk membuka mesin pencari maupun situs lain selama asesmen berlangsung.
Fitur tersebut diharapkan membantu menjaga kemandirian dan kejujuran siswa ketika mengerjakan soal.
Baca Juga : KPU Sidrap Monitor Debat Pilketos SMKN 1, Dua Paslon Adu Visi dan Program
Selain itu, aplikasi mampu melakukan pengolahan nilai secara otomatis.
Hasil pekerjaan siswa dapat dihitung sistem setelah pengerjaan selesai sehingga guru tidak perlu melakukan seluruh proses pemeriksaan secara manual.
Badewi menyebut digitalisasi asesmen menjadi bagian dari upaya sekolah membiasakan guru dan siswa menggunakan teknologi untuk mendukung proses pendidikan.
“Dunia pendidikan sekarang harus mengikuti perkembangan teknologi. Karena itu, kita mencoba melakukan inovasi ini secara bertahap. Kita ingin guru dan siswa sama-sama terbiasa menggunakan teknologi untuk kepentingan pendidikan,” katanya.
Pelaksanaan STS berbasis digital tersebut juga digunakan sekolah untuk mengevaluasi kesiapan perangkat, jaringan internet, aplikasi, guru, dan siswa.
Menurut pihak sekolah, penerapan asesmen digital secara menyeluruh ini menjadi yang pertama pada jenjang SMP di Kecamatan Bua.
Klaim tersebut masih merujuk pada keterangan SMPN 2 Bua.
Sekolah berharap penggunaan teknologi tidak hanya diterapkan dalam proses pembelajaran, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung evaluasi pendidikan agar lebih efektif dan efisien.












