Luwu TimurPolitik

Survei LSI Denny JA: Petahana di Lutim Dinilai Rawan

×

Survei LSI Denny JA: Petahana di Lutim Dinilai Rawan

Sebarkan artikel ini
Survei LSI Denny JA: Petahana di Lutim Dinilai Rawan

SINDOSULSEL.COM, Makassar – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil surveinya dua bulan menjelang Pilkada Luwu Timur (Lutim) November 2024 mendatang.

Hasilnya, pasangan petahana Budiman Hakim-Andi Akbar Leluasa dinilai masih harus bekerja keras karena dianggap masih rawan ditumbangkan oleh rivalnya, Ibas-Puspa.

Peneliti LSI Denny JA, Fajar Moestar membeberkan, mayoritas masyarakat di Kabupaten Luwu Timur menyatakan bahwa bupati petahana Budiman Hakim adalah petahana yang lemah dan rawan dikalahkan.

“Sebesar 51% menyatakan bahwa petahana Budiman tidak kokoh dan masih bisa dikalahkan. Dan hanya sebesar 27.5 % yang menyatakan masih kuat,” bebernya, saat merilis hasil survei terbarunya di Hotel Harper Makassar, Jumat (30/9/2024).

Survei tersebut dilakukan pada bulan September 2024 dengan bertatap muka (face to face interview) menggunakan kuesioner kepada 440 responden di seluruh kecamatan di Kabupaten LuwuTimur.

Survei itu juga melibatkan 440 responden, margin of error survei ini sebesar 4,8 %. Survei dilakukan pada tanggal 2 -10 September 2024.

“Selain masalah redupnya petahana, survei terakhir kami menemukan bahwa pesona penantang yang terus meningkat yaitu Ibas-Puspa yang disukai hampir di semua segmen pemilih di Luwu Timur,” ungkapnya.

Meski demikian kata Fajar, publik menilai Budiman memiliki nilai elektoral cukup tinggi, angkanya capai 27, 5 persen. Sementara belum tidak menentukan sikap hanya 21,5 persen.

Selain itu, Budiman merupakan petahana dan dikenal luas oleh masyarakat Luwu Timur. Sehingga wajar jika pengenalan tinggi namun katanya, tidak serta merta dikenal lalu disukai dan dipilih.

“Pengenalan Budiman tinggi, yaitu 98,5 persen, wajar karena dia adalah bupati, namun kesukaannya 85,2 persen,” ujarnya.

Untuk tingkat elektabilitas di dua bulan tersisa, Ibas-Puspa unggul dengan 44,9%, disusul Budiman-Akbar 39,2%. Sedangkan elektabilitas Isrullah Achmad-Usman Sadik terpaut jauh yakni hanya 3%. Sementara responden menjawab tidak tahu atau merahasiakan pilihannya sebanyak 12,9%.

“Dua bulan tersisa, dinamika elektabilitas masih bisa berubah. Perubahan dukungan sangat tergantung bagaimana kandidat memanfaatkan waktu yang tersisa,” pungkasnya. (*)