SINDOSULSEL.COM, Makassar – Pasangan calon terus masif menggalang dukungan dan simpati warga sebulan menjelang Pilkada Serentak 27 November 2024 mendatang.
Hal itu juga yang menjadi gambaran hasil survei yang dilakukan PT Indeks Politica Indonesia (IPI) yang membuat peta politik di daerah berubah, seperti yang terjadi di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Di daerah ini, sebanyak empat pasangan calon siap bertarung di antaranya, Paris Yasir -Islam Iskandar, Muhammad Syarif-Moch Noer Alim Qalbi, Syamsuddin Karlos- Syafruddin Nurdin dam Efendi Al Qadri Mulyadi- Andri Suryana Arief Bulu.
Direktur Eksekutif PT IPI, Suwardi Idris Amir menyampaikan bahwa awal pencalonan paslon Paris Yasir -Islam Iskandar memiliki elektabilitas hingga mencapai 40% namun terus tergerus atau mengalami penurunan sementara elektabilitas paslon Muhammad Syarif- Moch Noer Alim Qalbi elektabilitasnya terus menanjak.
“Survei bulan September Paris Yasir -Islam Iskandar elektabilitas di angka 34,1 % tapi masuk Oktober elektabilitasnya menurun di angka 32%, dan Muhammad Syarif- Moch Noer Alim Qalbi September masih di angka 26,2 % tapi Oktober mengalami kenaikan menjadi 30,8%,” kata bebernya dalam diskusi politik bersama komunitas wartawan politik Sulsel bertema membedah peluang pasangan calon kepala daerah Kabupaten Jeneponto, di salah satu kafe di Makassar, Kamis (24/10/2024).
Diskusi tersebut juga menghadirkan pengamat Politik dari Unismuh Makassar, Ridwan Fawallang dan Bachtiar Adnan Kusuma yang merupakan tokoh literasi dan penulis nasional.
Dalam survei PT IPI yang dilakukan periode 11-19 Oktober itu menampilkan bahwa elektabilitas pasangan Paris Yasir -Islam Iskandar 32% lalu disusul Muhammad Syarif- Moch Noer Alim Qalbi 30,8%, kemudian rutan ketiga Syamsuddin Karlos- Syafruddin Nurdin 19,4 % dan keempat Efendi Al Qadri Mulyadi- Andri Suryana Arief Bulu 7,3% sementara yang masih merahasiakan 10.3 %.
Suwardi menyampaikan bahwa peningkatan elektabilitas pasangan Syarif- Qalbi karena dipengaruhi beberapa faktor termasuk berhasil menciptakan pasangan yang bisa saling melengkapi di mata masyarakat sehingga sangat menarik karena ada yang mewakili karakter masyarakat yang suka dengan kepemimpinan dari seorang birokrasi yang bersih dan berpengalaman.
“Dengan menggandeng Moch Noer Alim Qalbi mewakili kelompok milenial yang memang menginginkan kehadiran figur-figur muda yang punya masa depan lebih cerah untuk memenuhi karakter pemilih milenial yang membutuhkan program berpihak kepada anak muda,” ucapnya.
Selain itu, kata Suwardi di Jeneponto juga masih kental soal ke sultanan (karaeng) yang berpengaruh di Jeneponto karena yang menjadi pejabat atau yang memiliki jabatan strategis rata-rata adalah tokoh atau kelompok keturunan raja atau karaeng dari Lurah maupun camat.
Sementara, Pengamat Politik Unismuh, Ridwan Fawallang juga menyebutkan, dua calon mantan Sekda yang bertarung di Pilkada Jeneponto, namun katanya, ada yang punya jam terbang lebih banyak.
Menurut dia, dilihat dari indikator-indikator Muhammad Syarif punya akses historis setiap fase-fase dari level di mana bekerja mulai dari birokrasi dan pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi.
“Saya kira dengan pengalaman perpaduan antara legislatif dan birokrasi ataupun eksekutif mampu mendorong bagaimana menyukseskan program mendorong pembangunan daerah,” ujarnya.
Sementara, Bachtiar Adnan Kusuma tokoh literasi dan penulis nasional menambahkan, kedua tokoh Muhammad Syarif dan Noer Alim Qalbi sangat menggambarkan bahwa figur ini ekspektasinya memang betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat Jeneponto karena merupakan birokrat tulen yang betul-betul berkarir dari anak tangga terbawa sampai menjadi Sekda dan kemudian pensiun menjadi politisi DPRD Provinsi.
“Saya sebut ini kamusnya Jeneponto, kenapa saya katakan demikian karena secara deterlate sangat menguasai tentang bagaimana tipikal karakter apalagi budaya karena Beliau adalah salah seorang pemangku adat kerajaan, dan diperkuat dengan hadirnya anak milenial berprestasi yang merupakan lulusan luar negeri di Inggris,” jelasnya.
Artinya, saat ini Jeneponto butuh perubahan-perubahan yang sangat signifikan terutama di bidang pendidikan bisa mengentaskan buta huruf di Jeneponto sehingga butuh figur kedua ini untuk melakukan transformasi peradaban di Jeneponto,” tandasnya. (*)












