NASIONAL, sindosulsel.com – Pendakwah Felix Siauw menyoroti kebiasaan sejumlah pejabat dan figur publik mengenakan pakaian, jam tangan, serta perhiasan bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Dalam sebuah video, Felix mengaku terkejut setelah mengetahui harga aksesori yang dikenakan sejumlah tokoh publik. Bahkan, terdapat pakaian dan perhiasan yang diperkirakan bernilai hampir Rp3 miliar.
“Aku baru ngerti loh, ada jam itu harganya Rp400 juta. Kalau Anda kaget, Anda harus tahu bahwasanya ada jam yang harganya Rp1 miliar,” kata Felix.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai kemampuan seseorang membeli barang mahal. Hal yang perlu dipertanyakan adalah kepantasan dan empati, terutama ketika kemewahan itu dipertontonkan oleh orang yang memegang jabatan publik.
“Itu kayak rumah berjalan. Bayangin, rumah mewah itu harganya Rp3 miliar, itu kayak rumah berjalan dia pakai,” ujarnya.
Felix membedakan antara hukum dan etika. Selama dibeli menggunakan uang yang halal, mengenakan barang mewah mungkin tidak melanggar hukum agama. Namun, seorang pejabat, pemimpin, guru, atau pendakwah memiliki tanggung jawab moral yang lebih tinggi.
“Kalau aturan itu adalah bare minimum, maka ethics adalah sesuatu yang lebih tinggi daripada aturan,” katanya.
Ia mencontohkan pesan ayahnya yang pernah bekerja sebagai direktur. Meski aturan kantor menentukan jam kerja tertentu, seorang pemimpin seharusnya datang lebih awal dan pulang lebih lambat untuk memberikan teladan kepada bawahannya.
Semakin tinggi posisi seseorang, kata Felix, semakin besar pula tuntutan etika yang melekat kepadanya.
Menurutnya, pejabat berbeda dengan pengusaha. Pejabat menerima amanah dan kekuasaan untuk mengurus kepentingan rakyat. Karena itu, kehidupan pejabat seharusnya mencerminkan kepekaan terhadap kondisi masyarakat yang dilayaninya.
“Pejabat atau penguasa itu tidak boleh bermewah-mewahan. Itu ethics-nya. Karena kalau mereka bermewah-mewahan, mereka akan menyakiti orang-orang yang mereka wakili,” katanya.
Felix menilai pemimpin seharusnya menjadi orang pertama yang merasakan kesulitan dan orang terakhir yang menikmati kenyamanan.
“Kalau ada orang lapar, pemimpin itu harusnya lebih awal lapar dan terakhir kali kenyang. Itu ethics,” ujarnya.
Kritik yang sama juga ia tujukan kepada tokoh agama. Pendakwah, ulama, dan guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi contoh bagi masyarakat.
Ketika seorang tokoh agama mempertontonkan kemewahan, menurut Felix, masyarakat dapat menilai bahwa agama telah dijadikan sarana memperoleh kekayaan.
“Orang akan bilang, ‘Enak ya jualan agama.’ Gampang banget memfitnah orang kalau sudah begitu,” katanya.
Felix menegaskan bahwa pembahasannya bukan mengenai halal atau haram. Ia lebih menyoroti cara seseorang memandang kekayaan dan memilih menggunakan hartanya.
“Aku tahu ini tidak dosa. Kita sedang membahas ethics, bukan membahas haram dan halal,” ujarnya.
Ia mencontohkan biaya barang mewah dapat digunakan untuk membangun studio, membiayai kegiatan dakwah, membantu masyarakat, atau membuka lapangan pekerjaan.
Felix juga mengingatkan bahwa setiap harta akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin banyak kekayaan yang dimiliki, semakin banyak pula pertanyaan mengenai bagaimana harta itu diperoleh dan digunakan.
Refleksi itu, katanya, juga ditujukan kepada dirinya sendiri. Seseorang yang terlihat sederhana ketika belum memiliki kekayaan belum tentu tetap sama ketika kekuasaan dan uang berada di tangannya.
“Mungkin kita belum dapat itu saja, atau mungkin aku belum dapat saja,” katanya.
Pada akhirnya, Felix mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan pakaian dan aksesori sebagai ukuran nilai seseorang. Ia ingin orang lebih memperhatikan gagasan, ilmu, dan manfaat yang diberikan.
“Aku senantiasa mencoba agar orang fokus dengan apa yang ada pada isi kepalaku, bukan apa yang aku pakai,” ujarnya.
Menurutnya, kemewahan mungkin tidak selalu melanggar hukum. Namun, bagi pejabat dan figur publik, setiap penampilan membawa pesan dan membentuk teladan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk menjaga kepantasan, kesederhanaan, dan empati kepada masyarakat.












