On this land there is what makes life worth living for:
the hesitation of April,
the smell of bread at dawn,
a woman’s opinions about men,
the writings of Aeschylus,
the beginning of love,
grass on a stone,
mothers standing on a flute string,
and the invaders’ fear of memories.
On this earth, there are things worth living for:
the end of September,
a woman who leaves her forty years in full apricot bloom,
an hour of sunshine in prison,
a cloud imitating a swarm of beings,
the cheers of a people for those who go to their deaths smiling,
and the fear of tyrants of songs.
On this land there is something worthy of life:
On this land is the Lady of the Earth, the Mother of Beginnings,
the Mother of Endings.
It used to be called Palestine.
It has become called Palestine.
My Lady: I am worthy, because you are my Lady, I am worthy of life.
SINDOSULSEL.COM, Internasional – Puisi Mahmoud Darwish yang berjudul On This Land There Is What Makes Life Worth Living kembali menggema di panggung dunia.
Puisi ini, dengan barisan imaji sederhana sekaligus mendalam—tentang roti yang dipanggang saat fajar, cinta yang baru lahir, hingga ketakutan para tiran terhadap nyanyian, selalu menjadi semacam “saksi” betapa Palestina hidup dalam detail kecil keseharian maupun dalam perjuangan panjang bangsanya.
Yang menjadikannya lebih istimewa, aktor asal Inggris, Benedict Cumberbatch, membacakan puisi ini di acara Together for Palestine di Wembley Stadium, London.
Sosok yang dikenal luas lewat perannya sebagai Sherlock Holmes dalam serial BBC Sherlock dan sebagai Doctor Strange dalam jagat film Marvel itu memberikan nafas baru pada teks Darwish, menghadirkannya di hadapan ribuan orang yang datang memberi dukungan bagi Palestina.
Cumberbatch bukan sekadar membacakan sebuah puisi. Ia menjembatani karya penyair Palestina kepada khalayak global yang mungkin tidak akrab dengan Darwish.
Dengan suara yang biasa menghidupkan karakter-karakter fiksi penuh karisma, ia mengalihkan sorotan dunia kepada bait-bait yang lahir dari tanah penuh luka dan kerinduan.
“Di bumi ini, ada yang pantas untuk hidup,” begitu salah satu kalimat kuncinya, sebuah penegasan bahwa Palestina bukan hanya tentang konflik, tapi juga tentang kehidupan yang layak dipertahankan.
Dalam pembacaan itu, dunia seakan diingatkan kembali bahwa puisi mampu menembus batas politik dan propaganda.
Darwish menulis tentang Palestina bukan hanya sebagai tempat, melainkan sebagai metafora untuk rumah, identitas, kehilangan, dan harapan.
Ketika Cumberbatch mengucapkannya di hadapan publik global, ia tidak mengambil suara Palestina, melainkan memperkuat gema yang sudah ada.
Solidaritas ini memperlihatkan bahwa seni—baik lewat puisi maupun panggung hiburan—dapat menjadi medium penting dalam perjuangan kemanusiaan.
Darwish menutup puisinya dengan kalimat, “It used to be called Palestine. It has become called Palestine.”
Kalimat sederhana yang penuh makna: sebuah nama yang tidak hilang, sebuah identitas yang tidak bisa dipadamkan.
Dan malam itu di Wembley, berkat suara seorang aktor yang dikenal di seluruh dunia, nama itu kembali dilafalkan dengan lantang: Palestina.












