MAKASSAR, sindosulsel.com – Momentum peringatan Hari Bumi dimanfaatkan komunitas Empathic.id untuk menggelar diskusi publik Empathic Talk Vol. II bertema “Ecofeminism: Perempuan di Tengah Krisis Iklim” yang berlangsung secara daring, Minggu (26/4/2026).
Kegiatan ini mengangkat keterkaitan antara krisis iklim dan ketimpangan gender, sekaligus menekankan pentingnya menghadirkan perspektif perempuan dalam upaya penyelesaian persoalan lingkungan.
Founder Empathic.id, A. Syamrullah Makkuaseng, menyatakan bahwa krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial yang berdampak signifikan terhadap kelompok rentan, khususnya perempuan.
“Krisis iklim menuntut pendekatan yang inklusif, terutama dalam melindungi kelompok yang paling terdampak,” ujarnya.
Angkat Isu Ecofeminism, Empathic Talk Vol II Soroti Peran Perempuan di Tengah Krisis Iklim
Hal senada disampaikan Founder Empathic.id lainnya, Liliana Muallim. Ia menegaskan bahwa forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga mampu mendorong empati dan aksi nyata dari masyarakat.
“Kami ingin diskusi ini melahirkan kesadaran bersama terhadap isu sosial dan lingkungan,” katanya.
Dalam pemaparannya, narasumber Nurul Habaib Al Mukarramah menjelaskan bahwa perempuan dan alam kerap mengalami pola ketidakadilan yang serupa dalam sistem yang tidak berpihak.
Ia menyoroti bahwa kerusakan lingkungan berdampak langsung pada kehidupan perempuan, termasuk meningkatnya kerentanan sosial akibat tekanan ekonomi.
“Ini bukan hanya tentang perempuan, tetapi tentang kita semua,” tegasnya.
Sementara itu, narasumber lainnya, Mashita Dewi Tidore, mengungkapkan bahwa ecofeminism melihat adanya keterkaitan antara eksploitasi alam dan ketidakadilan terhadap perempuan.
Menurutnya, perempuan menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak krisis iklim, namun masih minim dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan.
Wujudkan Ketahanan Pangan di Tengah Perubahan Iklim, Dosen FEMA IPB Gagas Agro Maritim 4.0
“Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan saat ini belum sepenuhnya responsif gender,” jelasnya.
Diskusi yang dipandu oleh moderator Rery Audry berlangsung interaktif dengan menekankan pentingnya keadilan yang mencakup tiga aspek utama, yakni perempuan, masyarakat rentan, dan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Empathic.id berharap dapat meningkatkan kesadaran publik serta mendorong partisipasi aktif perempuan dalam aksi-aksi iklim.
Momentum Hari Bumi pun diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi penggerak kolaborasi menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.












