SIDRAP, sindosulsel.com – Warga Desa Botto, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), menggelar pesta panen raya Mappadendang, Senin (14/09/2026).
Tradisi tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen musim tanam kedua di tengah tantangan musim kemarau yang memengaruhi kondisi pertanian di wilayah itu.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama masyarakat dan petani setempat.
Meski menghadapi kondisi kekeringan, sebagian besar lahan persawahan di Desa Botto tetap berhasil dipanen.
Syaharuddin mengatakan Mappadendang merupakan tradisi masyarakat yang menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh.
Baca Juga : Pangdivif 3 Kostrad Puji Ketahanan Pangan Sidrap di Tengah El Nino
“Mappadendang ini merupakan bentuk rasa syukur kita terhadap hasil panen yang telah kita dapatkan,” ujar Syaharuddin.
Menurut dia, total luas lahan persawahan di Desa Botto mencapai 1.073 hektare.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.036 hektare berhasil dipanen, sementara 37 hektare mengalami gagal panen.
“Dari total 1.073 hektare, yang gagal panen hanya 37 hektare. Itu pun sawah tadah hujan. Sementara, sebanyak 1.036 hektare berhasil panen dengan rata-rata produksi mencapai 8 ton per hektare,” jelasnya.
Baca Juga : Kisah Jhon, Pemuda Sidrap yang Bertani dan Jadi Tukang Kayu demi Masa Depan
Ia menyebut lahan yang mengalami gagal panen merupakan sawah tadah hujan yang lebih rentan terhadap kekeringan.
Hasil panen tersebut menjadi kabar positif bagi petani Desa Botto karena produktivitas pertanian tetap terjaga meski kondisi cuaca kurang mendukung.
Syaharuddin berharap tradisi Mappadendang terus dilestarikan sebagai bagian dari budaya masyarakat sekaligus menjadi momentum memperkuat kebersamaan di kalangan petani.












