SINDOSULSEL.COM, Ragam – Hideo Kojima, sosok yang lahir pada Senin (24/08/1963) di Setagaya, Tokyo, telah menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam industri game dunia.
Dikenal sebagai auteur pionir dalam medium video game, Kojima mengembangkan passion yang mendalam terhadap film dan sastra sejak masa kanak-kanak dan remaja, yang kemudian memberikan pengaruh signifikan pada karya-karyanya.
Perjalanan karier profesionalnya dimulai pada tahun 1986 ketika bergabung dengan Konami, di mana ia menciptakan Metal Gear untuk platform MSX2 pada tahun 1987 – sebuah game yang meletakkan fondasi genre stealth dan franchise Metal Gear yang menjadi karyanya yang paling dikenal dan diakui.
Keunikan Kojima terletak pada pendekatannya yang sinematik dalam pengembangan game, sebuah inovasi yang pada masanya dianggap revolusioner.
Berbeda dengan kebanyakan developer game yang dikenal melalui tim pengembang mereka, Kojima berhasil membangun identitas personal yang kuat, di mana setiap gamenya selalu dilihat melalui lensa visi dan gaya pribadinya.
Hal ini membuatnya menjadi salah satu direktur dan desainer game paling dikenal, bahkan game-gamenya sering dinanti-nanti karena nama Kojima sendiri, terutama setelah kesuksesan serial Metal Gear yang sangat populer dan berpengaruh.
Karya-karya Kojima tidak hanya terkenal karena gameplay yang inovatif, tetapi juga karena narrative yang mendalam dan kompleks.
Death Stranding, yang dirilis pada 2019, merupakan contoh sempurna dari pendekatan metamodern dalam game design, di mana Kojima mengeksplorasi konsep osilasi, empati, konstruksionisme, dan relasi berorientasi objek.
Game ini terbukti menjadi contoh cemerlang dari gaming metamodern, dengan elemen gameplay yang menentukan strategi dan elemen terkait metamodern.
Keberhasilan Death Stranding yang telah terjual lebih dari 10 juta kopi hingga 2022 membuktikan bahwa pendekatan unik Kojima masih relevan di era modern.
Salah satu aspek yang membuat Kojima unik adalah kemampuannya dalam menggunakan imagery dan memori lintas media.
Dalam Metal Gear Solid (1998), ia menggunakan fotografi statis dari pengeboman atom Hiroshima dengan cara yang sangat mirip dengan film Battles without Honor or Humanity (1973) karya Fukasaku Kinji.
Kedua karya ini memposisikan Jepang sebagai korban, dengan Hiroshima melambangkan penyalahgunaan teknologi dan kekuatan Amerika.
Namun, perbedaan utama terletak pada subjektivitas karakter utama yang berasal dari trajektori naratif yang berbeda dan spesifisitas media sinema dan game.
Dalam aspek politik dan sosial, karya-karya Kojima menampilkan kualitas anti-imperial dan dekolonial yang kuat.
Metal Gear Solid V: The Phantom Pain (2015) dan Death Stranding (2019) mengekspresikan komentar tentang politik Amerika dan efeknya terhadap Amerika Serikat dan dunia.
Kojima menggunakan novel Moby-Dick karya Herman Melville sebagai jangkar untuk memperluas kritiknya terhadap kebijakan luar negeri Amerika sebagai outsider yang terkena dampak hegemoni global AS.
Kedua game ini menegaskan pandangan dunia dekolonisasi dengan menginvalidasi politik imperial Amerika dan mendorong pemain global untuk melakukan hal yang sama.
Dari perspektif environmental game studies, Death Stranding juga dapat dianalisis sebagai eco-game yang tidak konvensional.
Game ini menampilkan penggambaran yang tidak konvensional dari wasteland post-apocalyptic, biopolitik yang mengatur kehidupan protagonis, dan gameplay yang berdasarkan eksplorasi ruang yang tidak terburu-buru.
Analisis ini menunjukkan potensi arah pengembangan penelitian lebih lanjut dalam bidang environmental game studies.
Evolusi naratif dalam serial Metal Gear menunjukkan pendekatan Kojima yang tidak biasa terhadap worldbuilding, gameplay mechanics, dan storytelling menggunakan berbagai sarana dan strategi naratif.
Koneksi Kojima dengan postmodernisme terutama terlihat dalam ciri khas serial ini – pemutusan dinding keempat yang konstan.
Metal Gear Solid V digambarkan sebagai semacam puzzle naratif yang menunjukkan karya paling ambisius Kojima hingga saat itu.
Dalam konteks ekonomi dan kritik sosial, Death Stranding juga dapat dibaca sebagai representasi dari pervasivitas neoliberalisme dalam elemen game design, mekanika, dan plot naratif.
Game ini secara khusus mengeksplorasi motif prekarisasi kerja, mencerminkan teori-teori tentang kerja platform dan neoliberalisme.
Analisis kritis ini menunjukkan bagaimana game dapat menjadi media untuk mengkritik sistem ekonomi kontemporer.
Salah satu aspek yang paling kontroversial dalam Death Stranding adalah representasi komodifikasi reproduktif.
Game ini menampilkan Amerika Serikat post-apocalyptic di mana tubuh perempuan menjadi komoditas untuk memproduksi bayi, yang digunakan pemerintah sebagai peralatan untuk membangun kembali negara.
Analisis menggunakan feminisme post-struktural menunjukkan bagaimana komodifikasi reproduktif diprioritaskan di atas etika oleh pemerintah, ditolak demi kehancuran umum untuk kebaikan yang lebih besar oleh teroris, dan hanya digunakan ketika benar-benar diperlukan oleh karakter pemain.
Dalam serial Metal Gear Solid, Kojima mengeksplorasi tema-tema psikoanalitikal yang kompleks.
Dengan menggunakan psikoanalisis dan filsafat, serial ini memetakan keruntuhan kedaulatan manusia melalui figur liquid hand yang bergerak antar karakter, melemahkan identitas dan selfhood.
Intervesi teoritis unik dalam diskursus posthumanisme dan dekonstruksi ini menunjukkan bagaimana Game and Media Studies dapat membantu menganalisis hubungan antara diri dan lainnya, modifikasi tubuh, prostetik, dan kekerasan.
Perjalanan karier Kojima mengalami titik balik dramatis pada tahun 2015 ketika ia meninggalkan Konami setelah hampir tiga dekade berkarier di sana.
Keberangkatannya pada Jumat (09/10/2015) menandai berakhirnya era penting dalam industri game.
Upacara perpisahan yang dihadiri sekitar seratus tamu di Kojima Productions digambarkan sebagai “perpisahan yang cukup ceria namun juga emosional”.
Konflik dengan Konami yang berkepanjangan culminated dalam penutupan Kojima Productions pada Juli 2015 dan pembentukan kembali sebagai developer game independen pada Desember 2015.
Konami bahkan menolak untuk menyebutkan nama Kojima dalam credits baru Metal Gear Solid: Master Collection Vol.1 yang dirilis pada 2023, menunjukkan betapa tidak harmonisnya hubungan antara keduanya.
Saking parahnya konflik tersebut, nama sang desainer legendaris sama sekali tidak dimuat dalam credits kompilasi yang berisi tiga game pertama MGS.
Hal ini bukan kali pertama remaster dari game klasik menjadi pembicaraan karena tidak memuat nama-nama orang yang terlibat pada pengembangan versi original.
Setelah keluarnya dari Konami, Kojima mendirikan Kojima Productions sebagai studio independen dan menjalin kemitraan dengan Sony Interactive Entertainment.
Game pertama di luar Konami, Death Stranding, dirilis pada November 2019 untuk PlayStation 4, diikuti dengan port Windows pada Juli 2020.
Director’s cut dirilis untuk PlayStation 5 pada September 2021, diikuti dengan rilis untuk Windows pada Maret 2022, iOS, iPadOS dan macOS pada Januari 2024, dan Amazon Luna dan Xbox Series X/S pada November 2024.
Saat ini, Kojima tengah mengerjakan beberapa proyek ambisius sekaligus.
Death Stranding 2: On the Beach, yang merupakan sekuel dari Death Stranding, telah dirilis pada Kamis (26/06/2025) untuk PlayStation 5.
Game ini menampilkan kembali Norman Reedus, Léa Seydoux, dan Troy Baker dalam universe Kojima yang mendobrak genre.
Selain itu, Kojima juga tengah mengembangkan OD, sebuah game horror yang dibuat berkolaborasi dengan sutradara Jordan Peele dan Xbox Game Studios.
Game ini dijanjikan akan “mengeksplorasi konsep menguji batas ambang rasa takut, dan apa artinya overdosis pada ketakutan”.
Proyek ketiga yang tengah dikerjakan Kojima adalah Physint, sebuah game action-espionage yang menandai kembalinya Kojima ke genre yang membesarkan namanya.
Ide untuk Physint muncul ketika Kojima jatuh sakit selama pandemi COVID-19 dan menyadari bahwa banyak orang menginginkannya untuk membuat sesuatu seperti Metal Gear.
Game ini diperkirakan akan memakan waktu lima hingga enam tahun lagi untuk diselesaikan, artinya kemungkinan baru akan dirilis sekitar awal dekade 2030-an.
Dalam wawancara terbaru, Kojima menegaskan bahwa ia akan terus berkarya hingga akhir hayat, mengutip persamaannya dengan Tom Cruise.
“Saya sama seperti Tom Cruise. Hidup saya didedikasikan untuk menciptakan sesuatu. Itulah kegembiraan saya,” kata Kojima.
Ia akan terus berkarya selama tubuh dan otaknya masih bekerja, dan hanya akan berhenti jika hal tersebut mengganggu orang-orang di sekitarnya.
Pernyataan ini menunjukkan komitmen Kojima terhadap kreativitas dan inovasi yang telah menjadi ciri khasnya selama puluhan tahun.
Kojima juga tidak menutup kemungkinan untuk merambah ke media lain di masa depan.
Dalam berbagai wawancara, ia telah mengisyaratkan keinginannya untuk membuat film, yang merupakan bentuk penghormatan terhadap dunia sinema yang telah membesarkannya.
Bahkan, terdapat rencana adaptasi film Death Stranding yang sedang dalam pengembangan, dengan Norman Reedus yang menyatakan keinginannya untuk berperan dalam film tersebut.
Pengaruh Kojima dalam industri game tidak hanya terbatas pada gameplay atau teknologi, tetapi juga pada cara bercerita dan penyampaian pesan yang mendalam.
Prediksi-prediksi yang pernah ia buat dalam game-gamenya, seperti tentang privasi digital dalam Metal Gear Solid 2: Sons of Liberty (2001) dan drone warfare dalam Metal Gear Solid 4: Guns of the Patriots (2008), terbukti menjadi kenyataan.
Hal ini menunjukkan kepekaan Kojima terhadap tren teknologi dan sosial yang akan datang.
Dengan rekam jejak yang mengesankan dan visi yang terus berkembang, Hideo Kojima tetap menjadi figur yang paling dinanti dalam industri game.
Kemampuannya untuk menggabungkan storytelling yang kompleks dengan gameplay yang inovatif, serta kepekaannya terhadap isu-isu sosial dan politik kontemporer, menjadikan setiap karya barunya sebagai peristiwa budaya yang signifikan.
Sebagai auteur sejati dalam medium video game, Kojima telah membuktikan bahwa game dapat menjadi medium artistik yang setara dengan film dan sastra dalam hal kedalaman naratif dan relevansi budaya.












