Ragam

Kerisauan Literasi dan Nyala Harapan untuk Indonesia

×

Kerisauan Literasi dan Nyala Harapan untuk Indonesia

Sebarkan artikel ini
Kerisauan Literasi dan Nyala Harapan untuk Indonesia
Foto: Pixabay

SINDOSULSEL.COM, Ragam – Di tengah hiruk pikuk pembangunan negeri, ada kerisauan yang mengendap jauh di dalam sanubari para pecinta tanah air.

Layaknya daun kering yang perlahan jatuh di penghujung musim, minat baca masyarakat Indonesia terkulai layu.

Angka-angka statistik berbisik lirih tentang betapa rendahnya literasi kita, seolah menjadi paradoks di era informasi yang begitu melimpah ruah.

UNESCO berkali kali telah merilis data yang menusuk perasaan: Indonesia berada di peringkat yang memprihatinkan dalam hal minat baca.

Buku-buku dibiarkan membisu di rak-rak, sementara mata-mata generasi muda kita lebih sering tertuju pada kilauan layar gawai.

“Scroll, tap, swipe” menjadi ritual baru yang menggeser “buka, baca, renungkan.” Kita menjadi penikmat konten instan, bukan pemikir yang mendalam.

Sementara itu, mimpi Indonesia Emas 2045 terpatri dalam setiap pidato dan dokumen resmi.

Visi besar menjadi negara maju di ulang tahun kemerdekaan yang ke-100. Namun, bagaimana mungkin kita mencapai puncak kejayaan, jika fondasi literasi kita begitu rapuh?.

Bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang bijak, jika pengetahuan hanya dijadikan konten 60 detik yang cepat dilupakan?.

Kekhawatiran bertambah ketika korupsi masih menjadi hantu yang berkeliaran di setiap sudut birokrasi.

Para koruptor, seperti kata Najwa Shihab, adalah “pencuri masa depan” yang menggerogoti mimpi generasi mendatang.

Kita membutuhkan generasi yang kritis, yang mampu memahami kompleksitas permasalahan bangsa. Dan kekritisan itu hanya lahir dari kebiasaan membaca yang mendalam.

Terasa berat memang. Seperti beban yang ditanggung Atlas dalam mitologi Yunani. Namun, masihkah kita memiliki harapan? Tentu saja.

Sebagaimana kata bijak: “Semakin gelap malam, itu berarti mentari semakin dekat.”

Setitik cahaya itu bisa kita lihat pada komunitas literasi yang mulai bermunculan.

Taman Bacaan Masyarakat yang diinisiasi oleh para pemuda di berbagai pelosok. Perpustakaan keliling yang menjangkau daerah terpencil.

Podcast dan konten kreatif yang membahas buku secara menarik. Bahkan para kreator TikTok dan Instagram yang kini mulai menyebarkan kutipan-kutipan buku di antara konten hiburan mereka.

Lihat bagaimana perpustakaan kini bertransformasi. Tidak lagi sekadar ruang sunyi penuh rak buku, tetapi menjadi ruang kreatif yang mengakomodasi kebutuhan Gen Z.

Co-working space dengan akses e-book, diskusi buku yang dikemas dalam format yang seru, bahkan “silent book club” yang kini menjadi tren di kalangan kawula muda.

Perubahan ini seperti meta-metamorfosis dalam novel Franz Kafka, namun dengan arah yang lebih positif. Buku tidak mati, ia hanya bertransformasi dalam bentuk yang lebih sesuai dengan zamannya.

Seperti halnya musik yang tidak pernah mati meski format fisiknya berubah dari piringan hitam menjadi streaming digital.

Dan tidakkah kita menyadari bahwa Gen Z justru memiliki potensi menjadi generasi pembaca yang lebih kritis? Mereka tumbuh di tengah banjir informasi, yang membuat mereka harus memilah dan memilih.

Kemampuan “filter” inilah yang jika diasah dengan benar, dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun literasi yang berkualitas.

Sebagai bangsa, kita memang sedang berada di fase senja. Namun, bukankah senja adalah waktu dimana langit menampilkan gradasi warna terindahnya?

Senja adalah pengingat bahwa setelah kegelapan, selalu ada fajar yang menanti untuk menyingsing.

Mari bergerak bersama, menyemai benih literasi di setiap sudut negeri. Mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan terdekat. Jadikan buku sebagai kawan sehari-hari, tidak harus berjam-jam, cukup beberapa menit yang konsisten.

Seperti kata penulis Fiersa Besari yang akrab di telinga Gen Z: “Membaca adalah jendela untuk melihat dunia tanpa harus keluar rumah.”

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi kosong jika literasi menjadi prioritas. Pemberantasan korupsi bukan utopia belaka jika masyarakat memiliki daya kritis berkat budaya membaca.

Dan masalah-masalah bangsa lainnya akan menemukan jalan keluar di tangan generasi yang gemar membaca dan berpikir.

Malam memang masih memeluk negeri ini. Namun, jika kita tajamkan penglihatan, akan tampak semburat jingga di ufuk timur.

Fajar Indonesia yang literat sedang dalam proses kelahirannya. Dan kitalah yang akan menjadi bidan bagi kelahiran itu.

Mari kita sambut mentari dengan mata yang siap membaca dan pikiran yang siap merenung. Sebab Indonesia yang kita cintai ini, layak mendapatkan generasi pembaca yang tangguh dan pemikir yang brilian.