Luwu Timur

Pencemaran Akibat Pipa Minyak Milik PT Vale Bocor Ancam Pertanian dan Sumber Air Warga

×

Pencemaran Akibat Pipa Minyak Milik PT Vale Bocor Ancam Pertanian dan Sumber Air Warga

Sebarkan artikel ini
Pencemaran Akibat Pipa Minyak Milik PT Vale Bocor Ancam Pertanian dan Sumber Air Warga
Petugas memasang oil trap sebagai bagian dari tanggap darurat peristiwa kebocoran pipa minyak milik PT Vale Indonesia di Desa Lioka, kecamatan Towuti, Luwu Timur (Ist)

SINDOSULSEL.COM, Lutim – Warga Desa Lioka, Kecamatan Towuti, digemparkan oleh bau menyengat pada Sabtu (23/08/2025) pagi.

Setelah ditelusuri, ternyata sumber bau tersebut berasal dari kebocoran pipa minyak milik PT Vale Indonesia Tbk.

Insiden itu menimbulkan tumpahan minyak yang merembes ke sawah, irigasi, hingga aliran sungai yang terhubung langsung dengan Danau Towuti.

Dikutip dari berbagai sumber media online setempat, peristiwa ini memicu kekhawatiran besar masyarakat karena berpotensi merusak ekosistem dan mata pencaharian petani.

Ketua Pospera Towuti, Amrullah, menyebut kebocoran tersebut sebagai ancaman serius bagi lingkungan.

“Puluhan hektar sawah sudah terdampak. Butuh waktu belasan tahun untuk kembali bisa ditanami,” ujarnya.

Warga di desa sekitar seperti Baruga, Matompi, Langkea Raya, dan Timampu pun ikut waspada karena jalur aliran minyak berpotensi melebar ke wilayah mereka.

Sejumlah aktivis lingkungan di Luwu Timur menilai peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan bentuk kelalaian yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi besar.

Mereka menuntut PT Vale bertanggung jawab penuh, termasuk terhadap risiko pencemaran air baku, lahan pertanian, hingga kesehatan masyarakat.

Kekhawatiran ini diperkuat dengan pengalaman kasus serupa, seperti tumpahan minyak di Teluk Balikpapan tahun 2018 yang menyebabkan kerugian hingga triliunan rupiah.

PT Vale Indonesia melalui Head of Corporate Communication, Vanda Kusumaningrum, menyampaikan permohonan maaf dan menjelaskan bahwa penyebab kerusakan pipa masih dalam tahap investigasi.

Ia menegaskan perusahaan telah mengaktifkan prosedur tanggap darurat sejak menerima laporan sekitar pukul 07.30 WITA.

Tim Emergency Response Group (ERG) dikerahkan ke lokasi untuk melakukan langkah pencegahan, termasuk pemasangan oil boom dan oil trap guna menahan penyebaran minyak lebih lanjut.

“Prioritas utama kami adalah memastikan sumber kebocoran dapat tertangani dengan baik, serta melakukan mitigasi terhadap dampak masyarakat, sosial, dan lingkungan. Kami memahami insiden ini menimbulkan keresahan. Karena itu keselamatan masyarakat, pekerja, dan ekosistem menjadi perhatian utama,” ujar Vanda.

Selain mengaktifkan tim tanggap darurat, PT Vale juga membentuk Crisis Management Team (CMT) untuk mempercepat pemulihan dan terus berkoordinasi dengan instansi pemerintah serta pemangku kepentingan.

Perusahaan berjanji menjaga transparansi informasi serta menjalankan tanggung jawab sosial sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai langkah darurat yang dilakukan belum maksimal. Ketua Pospera Towuti, Ulla, menyoroti penggunaan peralatan sederhana yang dinilai tidak sebanding dengan besarnya volume tumpahan minyak.

“Kalau seperti ini, sulit diharapkan hasilnya bisa optimal,” katanya.

Kebocoran pipa minyak PT Vale di Lioka ini menambah daftar panjang kasus pencemaran lingkungan akibat aktivitas industri ekstraktif.

Warga berharap perusahaan benar-benar serius menangani dampak insiden tersebut, agar kerugian ekonomi, kesehatan, dan kerusakan ekologi tidak semakin meluas.