SINDOSULSEL.COM, Makassar – Pada tahun 1995, masayarakat Makassar digegerkan dengan kisah tragis yang menimpa satu keluarga di Jalan Karunrung, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Pagi itu, pemandangan di sebuah rumah yang terbilang mewah yang dihuni sepasang suami istri dan tiga orang anaknya serta pembantu rumah tangga (PRT) begitu mengerikan.
Mereka ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan luka di sekujur tubuhnya, ceceran darah di lantai rumah menggambarkan begitu sadisnya para pelaku yang tega menghabisi nyawa penghuni rumah tanpa ampun dan belas kasihan.
Kini, peristiwa mengerikan itu telah berlalu namun tetap menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, meski para pelaku telah dihukum setimpal dengan perbuatannya. Kisahnya pun telah menjadi tragedi.
Dapat Golden Ticket di D’Academy, Legislator Sidrap Beri Ucapan Selamat Kepada Andi Syaqira
Demi mengenang tragedi memilikan itu, Sony F Rimba pun menuliskan kisah dan menyajikannya dalam sebuah karya film layar lebar yang segera tayang di bioskop-biosko Tanah Air.
Sony selaku sutradara menyebutkan, karya kali ini berbeda dan menjadi episode kemanusiaan tidak sekedar jump scare belaka.
“Ini lebih dari sekedar horor tapi drama kemanusiaan penuh tausiyah kehidupan agar tidak sembrono atau menghalalkan segala cara. Semua harus dipikirkan matang-matang akibatnya,” paparnya.
Karunrung 1995, adalah refleksi atas kejadian berdarah dari Kota Makassar, yang diharapkan tidak terulang lagi.
Binasol Pictures dan Cucu Dalang mempersembahkan episode mengerikan kala itu dari sebuah potret keluarga harmonis harus meregang nyawa atas sebuah kesalahpahaman atau kekhilafan.
“Harus ada kesempatan kedua untuk tiap manusia yang khilaf dan sudah menjalani hukuman atas perbuatannya. Kami punya ruang untuk doa bagi para korban dan tausiyah kemanusian agar tidak terulang lagi di masa mendatang, ” ungkap Basuni LMJ mewakili executive produser kepada redaksi.
10 Juli bulan depan, publik akan menikmati sajian fiksi pembantaian mengerikan yang sangat terkenal kala itu.
Sinopsis Singkat;
Di tengah panasnya pasar tradisional Kota Makassar, geng preman yang dipimpin Uli (Cahya ary nagara ) menebar teror dan ketakutan.
Kerusuhan di Los Angeles, Polisi Tembak Jurnalis Saat Siaran Langsung
Sampai suatu ketika seorang pebisnis kaya Hendra (HM Isnan Dahir) menawarkan pekerjaan kotor dengan bayaran besar, semuanya berubah menjadi pembantaian keji yang tak hanya merenggut nyawa, tapi juga membangkitkan amarah dari alam lain.
Sebuah keluarga Burhan ( Mahesa dinsi ), Farida ( Puput Aulia Putri ) sang istri yang sedang mengandung beserta anak anaknya dibantai secara sadis tanpa belas kasih dan keadilan tak hanya dicari oleh polisi atau jurnalis ambisius bernama Alana ( Fatimah Azahra) dibantu sang kekasih Andi (Agogo Violin), tapi juga oleh arwah korban yang tak bisa tenang.
Ketika rasa bersalah, ketakutan, dan teror gaib mulai menghantui para pelaku, satu per satu mereka mulai kehilangan kendali.
Lalu siapa yang benar-benar akan membayar harga atas tragedi ini ? Dan sampai kapan dendam arwah korban akan berhenti menuntut balas atas kekejian para pelaku?
“Mari kita panjatkan AlFatihah untuk korban dan stop stigma atas pelaku agar bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat, semoga tidak terulang,” tukas Sony sang sutradara. (*)












