BONE, sindosulsel.com – Wakil Bupati Bone Andi Akmal Pasluddin membuka Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau Maraja 2026 di Kampung Nelayan Merah Putih, Desa Angkue, Kecamatan Kajuara, Senin (28/09/2026).
Festival yang digelar Pemerhati Seni dan Budaya Bone (PSBB) Sangdara itu tidak hanya mengangkat seni dan tradisi masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi momentum mendorong pengembangan potensi wisata mangrove di Desa Angkue.
Kegiatan mengusung tema “Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Upaya Penguatan Identitas Masyarakat Pesisir Bone.”
Festival menghadirkan unsur sejarah, budaya, pengetahuan lokal, lingkungan, serta kehidupan masyarakat pesisir.
Ketua PSBB Bone Sangdara Wiwin Wahyuni mengatakan Lampu’ Toae dipilih sebagai lokasi kegiatan untuk kembali memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya di wilayah Kajuara.
Menurutnya, pelaksanaan festival mendapat dukungan melalui fasilitasi pemajuan kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan.
Ia berharap generasi muda semakin mengenal sekaligus ikut menjaga warisan budaya yang terdapat di daerahnya.
Festival tersebut juga mendapat dukungan Yayasan Lontara Hijau berupa 1.000 bibit mangrove serta 2.000 bibit pohon dan buah.
Bibit tersebut diarahkan untuk mendukung pelestarian lingkungan dan penguatan ekosistem pesisir Desa Angkue.
Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan Iswadi mengatakan pihaknya terus membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas budaya, dan berbagai unsur masyarakat dalam mendukung pemajuan kebudayaan.
Dalam rangkaian kegiatan, Andi Akmal turut menyerahkan bibit mangrove secara simbolis. Masyarakat juga membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter sebagai bagian dari rangkaian festival.
Andi Akmal mengapresiasi kegiatan yang menggabungkan unsur budaya, maritim, lingkungan, dan kebangsaan tersebut.
“Budaya dan lingkungan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus kita dukung agar nilai-nilai budaya tetap hidup sekaligus kepedulian terhadap lingkungan semakin tumbuh di tengah masyarakat,” ujar Andi Akmal.
Ia juga menyoroti potensi kawasan mangrove dan wilayah pesisir Desa Angkue yang dinilai dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Menurutnya, pengembangan wisata dapat menjadi alternatif sumber penghasilan masyarakat sehingga perekonomian desa tidak semata bergantung pada aktivitas penangkapan ikan.
“Ke depan, kita tidak hanya bergantung pada penangkapan ikan laut. Bagaimana kita memaksimalkan potensi yang ada di desa ini untuk ekonomi masyarakat,” katanya.
Andi Akmal menyebut Pemerintah Kabupaten Bone akan melihat lebih jauh peluang pengembangan kawasan mangrove di Desa Angkue. Ia juga menyampaikan rencana untuk mendorong rintisan wisata mangrove mulai tahun depan.
“Insyaallah tahun depan kita coba membuat rintisan untuk mangrove di Desa Angkue ini. Kita lihat potensinya dan kita berikan dorongan anggaran dari APBD Kabupaten Bone,” ujarnya.
Pernyataan tersebut masih berupa rencana pengembangan yang akan melihat potensi kawasan dan dukungan anggaran daerah.
Menurut Andi Akmal, Desa Angkue memiliki sejumlah modal yang dapat dikembangkan, mulai dari Kampung Nelayan Merah Putih, kawasan mangrove, pelabuhan hingga budaya masyarakat pesisir.
Ia juga mendorong Festival Lampu’ Toae dilaksanakan secara berkelanjutan agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi ikut membuka ruang pengembangan wisata, pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Festival turut dihadiri anggota DPRD Kabupaten Bone, perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, unsur Tripika Kecamatan Kajuara, para camat, kepala desa dan lurah, kepala sekolah, komunitas budaya, pemuda, pemerhati kebudayaan serta masyarakat.
Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae menjadi salah satu rangkaian Gau Maraja 2026 yang diarahkan untuk memperkenalkan kembali budaya masyarakat pesisir sekaligus mendorong perhatian terhadap pelestarian lingkungan dan potensi wisata di kawasan Bone Selatan.












