PALOPO, sindosulsel.com – Pengembangan gastronomi didorong menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif di Kota Palopo, melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas. Upaya tersebut dibahas dalam Palopo Gastronomy Forum yang berlangsung di Auditorium Saokotae, Sabtu (24/10/2026).
Forum tersebut merupakan bagian dari Palopo Gastronomy Festival 2026 yang berlangsung pada 23–25 Oktober. Selain diskusi, rangkaian festival juga menghadirkan program Business Matching untuk membuka peluang kerja sama antara pelaku UMKM kuliner dan calon mitra bisnis.
Moderator Palopo Gastronomy Forum, Zulham Hafid, mengatakan forum itu melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar gagasan dan menghimpun aspirasi terkait upaya mendorong Palopo masuk dalam nominasi kota kreatif di Indonesia.
Baca juga : Pemkot Palopo Gelar Gerakan Pangan Murah Serentak Peringati Hari Pangan Sedunia 2026
“Kita ingin mendapatkan komitmen bersama agar bagaimana gastronomi ini bisa menjadi platform baru dari ekonomi kreatif bagi pelaku kreatif di Kota Palopo,” ujar Zulham.
Menurutnya, keterlibatan akademisi, praktisi, pelaku usaha, dan komunitas diharapkan memperkaya perspektif mengenai pengembangan gastronomi di daerah.
Forum tersebut menghadirkan enam narasumber, yakni Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kota Palopo, Ade Chandra Sekretaris ICCN Sulsel, Asriandi, Kurniati Tajuddin dari Politeknik Dewantara Palopo.
Hadir pula Ahmad Syauqi dari Foody Moody, Andi Teguh Alifiarachman dari Magai Coffee and Roastery, serta Viqra Wardhana dari Tuuktea Lab.
Sementara itu, program Business Matching dalam rangkaian festival diarahkan untuk mempertemukan UMKM kuliner lokal dengan investor, distributor, serta jaringan hotel, restoran, dan kafe (HORECA). Program tersebut juga mencakup literasi keuangan untuk mendukung pengembangan usaha.
Sekretaris Daerah Kota Palopo, Dr. H. Andi Poci, S.H., M.Si., saat membuka festival di Taman I AM PALOPO CITY, Jumat (23/10/2026), mengatakan gastronomi tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga mencakup sejarah, tradisi, bahan pangan lokal, dan teknik pengolahan yang diwariskan antargenerasi.
Baca juga : Kemarau Panjang, Palopo Hadapi Masalah Air, Listrik dan BBM
“Gastronomi bukan sekadar soal makanan, melainkan perpaduan sejarah, tradisi, bahan pangan lokal, teknik pengolahan, hingga cerita yang diwariskan lintas generasi. Melalui festival ini, kita memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong daya tarik pariwisata berbasis kearifan lokal,” ujar Andi Poci.
Ia juga menilai pengembangan gastronomi dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan dan pengembangan kota kreatif.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palopo sekaligus Ketua Pelaksana, Emil Nugraha, S.STP., M.M., mengatakan festival turut menghadirkan pertunjukan seni tari, musik, dan puisi untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada pengunjung dan wisatawan.
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palopo, Muh. Amin, SP, menyebut festival tahun ini merupakan pelaksanaan perdana kegiatan gastronomi di Palopo. Ia berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut dan masuk dalam kalender acara nasional.
Festival yang berlangsung selama tiga hari itu menjadi salah satu upaya mempertemukan potensi kuliner, budaya, dan pelaku usaha dalam pengembangan ekonomi kreatif Palopo. Dampak terhadap perluasan pasar UMKM dan realisasi kerja sama bisnis masih perlu dilihat dari hasil serta tindak lanjut kegiatan tersebut.












