Ekobis

Harga Telur Turun, Peternak Sidrap Terjepit Biaya Pakan

×

Harga Telur Turun, Peternak Sidrap Terjepit Biaya Pakan

Sebarkan artikel ini
Harga Telur Turun, Peternak Sidrap Terjepit Biaya Pakan
Foto : Peternak ayam petelur di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, menghadapi tekanan usaha akibat anjloknya harga jual telur di tengah kenaikan harga pakan ternak.(Ridwan Wahid)

SIDRAP, sindosulsel.com – Peternak ayam petelur di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, menghadapi tekanan usaha akibat anjloknya harga jual telur di tengah kenaikan harga pakan ternak.

Harga telur ayam grade kecil dilaporkan turun hingga Rp25.000 per rak per Senin (2/11/2026).

Seorang peternak yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan, harga tersebut jauh di bawah harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp48.000 per rak.

“Kami sangat mengeluhkan ini. Saat ini harga telur grade kecil di kisaran Rp25.000 per rak, padahal harga normalnya biasanya di kisaran Rp48.000 per rak,” ungkapnya.

Baca juga : Peringati Hari Santri 2026, Wabup Sidrap Ajak Santri Makan Telur Bersama

Di sisi lain, biaya produksi justru mengalami kenaikan. Harga pakan konsentrat ayam petelur saat ini berkisar Rp9.000 hingga Rp9.500 per kilogram, meningkat dari harga normal sekitar Rp8.000 per kilogram.

Adapun pakan jadi dalam kemasan 50 kilogram dijual dengan harga bervariasi antara Rp450.000 hingga Rp595.000 per sak, bergantung pada merek dan lokasi pembelian.

Kondisi tersebut membuat peternak semakin tertekan karena penurunan harga jual telur tidak diikuti penurunan biaya produksi.

“Harga pakan naik, tapi harga telur justru turun drastis. Kami berharap pemerintah setempat ikut ambil andil dalam penegakan harga agar kembali normal,” harap peternak tersebut.

Baca juga : Peternak Muda Sidrap Produksi Lebih dari 700 Rak Telur Setiap Hari

Kepala Bagian Ekonomi Kabupaten Sidrap, Haris Alimin, membenarkan adanya penurunan harga telur, khususnya untuk kategori ukuran kecil. Ia menyebut harga Rp25.000 per rak sudah tergolong sangat rendah.

“Benar, harga telur kecil saat ini di kisaran Rp25.000 per rak. Itu memang sudah sangat murah. Secara harga pembelian, angka tersebut sekitar Rp26.000 per kilogram dan merupakan salah satu yang terendah,” ujarnya.

Haris menjelaskan, harga telur perlu dilihat berdasarkan klasifikasi ukuran dan bobotnya. Telur yang dijual Rp25.000 per rak merupakan kategori kecil dengan berat sekitar 1,6 kilogram.

Sementara telur dengan bobot rata-rata 1,92–1,93 kilogram per rak berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp42.000 di tingkat peternak.

Ia juga mengakui kenaikan harga sejumlah bahan baku pakan semakin membebani peternak. Selain konsentrat, harga jagung dan dedak juga mengalami kenaikan, sementara harga telur masih berada jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP).

Menurut Haris, kondisi cuaca ekstrem berupa kemarau berkepanjangan turut memengaruhi sektor peternakan ayam petelur di Sidrap.

Baca juga : Pemkab Sidrap Galakkan Gerakan Makan Telur

“Dampak eksternal kemarau ekstrem yang berkepanjangan menyebabkan produksi dan kualitas telur menurun, bahkan kematian ternak juga meningkat,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Sidrap, lanjut Haris, sedang mencari solusi untuk memperbaiki kondisi pasar dan meringankan beban peternak. Salah satu langkah yang menjadi prioritas adalah mengupayakan penurunan harga pakan ternak.

“Kami berharap peternak bisa menyesuaikan terlebih dahulu. Pemerintah terus bergerak mencari solusi agar permintaan meningkat dan harga bisa membaik. Salah satu prioritas kami saat ini adalah berupaya menurunkan harga pakan ternak. Semoga semua ini segera membaik,” pungkasnya.

Di tengah tekanan harga jual dan kenaikan biaya produksi, peternak kini berharap adanya langkah konkret pemerintah agar harga telur kembali membaik dan usaha peternakan ayam petelur di Sidrap tetap dapat bertahan.