Oleh: M. Rusydi Arif
Pemerhati Sosial & Demokrasi
(Alumni Al-Azhar Mesir & Pondok Pesantren As’adiyah)
SINDOSULSEL.COM, Wajo – Sosoknya selama satu (1) tahun terakhir ini memantik perbincangan luas masyarakat Wajo. Sosok yang murah senyum ini, di mana-mana diperbincangkan, menjadi objek obrolan seirus di sudut-sudut kota Sengkang hingga di pelosok kampung.
Banyak orang penasaran siapa gerangan Andi Rosman ini. Karena sebelum memastikan diri bertarung di ajang kontestasi pilkada Wajo, namanya, memang praktis tidak begitu dikenal. Ia begitu asing. Tapi ia baru dijadikan objek diskusi akan “profilingnya” oleh berbagai kalangan saat namanya sudah resmi menjadi paslon Bupati Wajo yang didukung oleh 9 Partai Pengusung dan Partai Pendukung, sehingga dapat mengunci 32 kursi dari 40 kursi legislatif yang ada di Wajo.
Perjumpaan saya dengan calon Bupati ini yang berpasangan dengan dr. Baso Rahmanuddin dengan akronim Ar-Rahman, melalui teman, terjadi pada medio bulan Juli, jauh sebelum ditetapkan oleh KPU sebagai salah satu kontestan pilkada Wajo, di salah satu “lounge” hotel di Makassar.
Sebelum A. Rosman tiba di tempat pertemuan yang ditentukan, saya berusaha mencari tahu latar belakang beliau dari beberapa teman sesama aktivis, dan di antara mereka banyak yang sudah kenal dekat sejak lama terkait kiprah dan perjalanan hidupnya, khususnya pengalamanya dalam dunia pemerintahan.
Kesimpulannya dari informasi yang saya terima, ia memiliki track record yang sangat baik dan lebih dari layak untuk diberikan kesempatan menjadi “ponggawa dan panutan” untuk sebuah daerah yang namanya Kabupaten Wajo. Sebuah Kabupaten yang identik sebagai Kabupaten/Kota Sutra dan Kota Santri.
Kembali ke cerita awal, saat tiba waktunya berjumpa langsung, dengan langkah kaki santai tapi cekatan dan energik, dengan raut muka ceria, tak nampak ada sebuah kelelahan di sana, iba-tiba beliau sudah ada di hadapan saya, Kami lalu salaman, cipika cipiki dan saling memperkenalkan diri.
Dengan sangat ramahnya, ia berucap, “Dinda…mohon maaf sekal saya sedikit terlambat dari waktu yang ditentukan, karena sebelumnya saya sudah terlanjur janjian dengan teman dengan rentang waktu yang tidak terlalu jauh dari pertemuan kita ini, dan juga saya baru tiba dari luar kota”, selorohnya. Saya jawab “tidak apa-apa, kanda.
Terlambatnya hanya seper sekian menit saja, dan toh juga tidak ada agenda kegiatan lain mendesak yang mesti saya harus bergeser”, ujar saya ke beliau.
Karena waktu sudah mulai menuju waktu larut malam, tanpa memperpanjang kalam, ia menyampaikan kondisi dan padatnya agenda kegiatannya sehingga waktu istirahatnya banyak habis di atas kendaraan.
Semua itu, dilakukannya sebagai upaya untuk menjalin dan mempererat tali silaturahim dengan siapapun, tanpa memilah dan memilih-milih orang/kelompok dengan latar sosial yang berbeda-beda. Dan menurutnya, hal ini bukan hal baru dilakukannya, sejak lepas tugas belajar dari STPDN Bandung hingga berkarir sebagai ASN kebiasaan ini tak pernah ia tinggalkan.
Dan lebih separuh dari usianya, ia habiskan karir birokrasinya di kampung halaman orang, Kabupaten Maros. Mulai sebagai Staf, Lurah, Camat, hingga menjabat Kepala Dinas dengan OPD yang berbeda-beda
Berbagai jabatan pemerintahan yang ia raih, menurutnya, semuanya ia gapai bukan karena faktor “kedekatan atau perlakuan “khusus’ dengan penguasa setempat, tetapi ia gapai karena dedikasi, dan itu tanpa pamrih.
Tugas apapun yang diamanahkan kepadanya, ia berusaha menyelesaikannya dengan sebaik mungkin dan penuh rasa tanggungjawab Soal apakah pekerjaan yang ia lakoni dinilai positif atau tidak ia serahkan kepada atasannya, ujarnya.
Ia kemudian melanjutkan, karena prinsip saya dalam bekerja, dimanapun dan apapun tugas atau jabatan yang diberikan kepada saya, sebagai ASN saya terikat dengan sumpah jabatan yang pernah terucapkan.
Dan sumpah jabatan itu, bukan hanya kita harus bertanggungjawab penuh kepada negara, kepada masyarakat, tapi sesungguhnya jaub lebih dari itu, kita harus bertanggungjawab penuh kepada agama, kepada yang Maha Pencipta.
Karena itu, saya tidak pernah berfikir sedikitpun untuk melakukan hal-hal yang sekiranya berpotensi melanggar sumpah jabatan. Saya hanya berusaha bekerja semaksimal mungkin sembari mengharapkan petunjuk dan Riidha Allah Swt.
Bahwa karir birokrasi yang ia rintis dari bawah hingga menjabat berbagai posisi strategis di kampung orang selama 32 tahun kemudian pada akhirnya “ditakdirkan” untuk kembali ke kampung halamannya dengan rentang waktu “purna bakti” yang masih cukup panjang sebagai seorang ASN, kesemuanya itu, dasarnya karena “keterpanggilan jiwa” untuk melakukan sesuatu.
Ia korbankan karir ASN-nya, dengan niat ikhlas – tulus, ia lakukan untuk sebuah cita-cita besar, melakukan perubahan yang signifikan untuk kampung halamannya, dimana ia lahir, tumbuh remaja hingga mencapai usia dewasa.
Ia prihatin akan kondisi daerahnya yang sangat kontras dengan kemajuan Kabupaten lain. Mulai soal ketertinggalan SDM, ketidakmandirian mengatur Tata Kelola Pemerintahan, tingkat kemiskinan ekstrim, dunia kerja dan daya saing sangat jauh tertinggal dari daerah lain, infrastruktur jalan yang sampai saat ini masih menjadi persoalan “laten” yang tak kunjung terselesaikan sehingga roda perputaran ekonomi dan aktifitas masyarakat sangat terganggu.
Efek dari semua ini, terpotret jika dilihat laju pertumbuhan Produk Domestik Regional (PDRB) atas dasar harga konstan di Kabupaten Wajo dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Terakhir berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, tahun 2023, Wajo hanya mampu mencapai di angka 1, 43 persen dari angka pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulsel 4, 51 persen.
(*)












