OPINI

Ramadhan, Bulan Meraih Maghfirah Allah

×

Ramadhan, Bulan Meraih Maghfirah Allah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Akhmad Bazith, Lc., M.Ag (Dosen FAI UMI Makassar)

Ramadhan, Bulan Meraih Maghfirah Allah

SINDOSULSEL.COM, OPINI – Mendapatkan kembali bulan Ramadhan adalah nikmat teragung dari Allah bagi kaum muslimin, selama nikmat tersebut dihargai.

Bila tidak, bulan Ramadhan akan datang dan pergi begitu saja tanpa ada manfaat dan kesan yang berarti.

Hal ini penting diingat pada Sabtu (21/02/2026) agar kita tidak termasuk dalam doa Malaikat Jibril yang diaminkan oleh Nabi yaitu; “Celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan, tetapi ia tidak diampuni”.

Yang dimaksud orang yang celaka dalam hadis ini adalah mereka yang melewati bulan Ramadhan yang penuh berkah namun tidak mendapatkan ampunan Allah. Mereka menghabiskan hari-harinya dengan perbuatan dosa dan kelalaian, sehingga tidak memperoleh maghfirah.

Di bulan Ramadhan, ampunan dan rahmat Allah tercurah seperti hujan deras.

Namun, jika kita menghabiskan kesempatan baik ini dengan perbuatan buruk, maka hal tersebut dapat menyebabkan kita terhalang dari ampunan-Nya.

Bila kita tidak memperoleh maghfirah pada bulan ini, lalu kapan lagi kita akan mendapatkannya? Tentu hal itu akan menjadi kebinasaan bagi kita.

Cara untuk mendapatkan maghfirah Allah adalah dengan menunaikan puasa Ramadhan, shalat berjamaah, shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, infak, bersedekah, membayar zakat fitrah, serta memperbanyak zikir istighfar dan bertobat.

Menurut Tuan Guru Bakhiet al-Banjari, ada beberapa tanda orang-orang yang terhapus dosanya di bulan Ramadhan. Pertama, merasakan kedekatan dan kehangatan hubungan dengan Allah.

Kedua, berpuasa di siang hari, memperbanyak ibadah sunnah di malam hari, serta menjauhkan diri dari maksiat dan syahwat. Ketiga, menunaikan zakat fitrah dengan benar dan ikhlas.

Apabila tiga tanda tersebut ada pada diri kita, maka kita bisa berharap masuk golongan orang-orang yang diampuni dosanya.

Hal ini sejalan dengan hadis Nabi dari Abu Hurairah bahwa barang siapa berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Amalan baik yang terbentuk hendaknya mampu menjadi karakter kita untuk 11 bulan ke depan. Jangan menjadikan Ramadhan sekadar topeng, tetapi jadikanlah ia sebagai wajah asli kita dalam menjalani kehidupan selanjutnya.

Apabila selama Ramadhan kita rajin membaca Al-Qur’an, ke masjid, dan bangun tahajud untuk bermunajat sambil meneteskan air mata, maka jangan sampai kebaikan tersebut hanya menjadi wajah indah sesaat.

Jadikanlah itu perhiasan jiwa yang tetap bertahan setelah Ramadhan meninggalkan kita. Hal ini sesuai firman Allah dalam QS Al-Nahl: 92 yang mengingatkan agar kita jangan seperti perempuan yang menjahit pakaian di pagi hari lalu merombaknya kembali di sore hari.

Amaliah ibadah Ramadhan ibarat sebuah bangunan atau istana megah yang jangan sampai diruntuhkan kembali. Ibarat tenunan pakaian indah, janganlah diurai lagi.

Itulah perumpamaan orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan namun kembali ke perilaku buruk sebelumnya setelah bulan suci berlalu. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang dihapuskan dosa-dosanya oleh Allah. Aamiin Allahumma Aamiin.